Pailit Nyonya Meneer : Apa Saja Sisa Harta Perusahaan?

Tim Kurator Kepailitan PT Nyonya Meneer hari ini, Senin (4/9/2017) mengumpulkan para kreditur perusahaan jamu legendaris yang telah berdiri semenjak 1919 itu.
Anggara Pernando
Anggara Pernando - Bisnis.com 04 September 2017  |  20:54 WIB

Bisnis.com, SEMARANG – Tim Kurator Kepailitan PT Nyonya Meneer hari ini, Senin (4/9/2017) mengumpulkan para kreditur perusahaan jamu legendaris yang telah berdiri semenjak 1919 itu.

Terdapat 83 kreditur yang mengajukan tagihan senilai Rp252,5 miliar. Selain itu diumumkan sejumlah aset yang dimiliki perusahaan. Lalu apa saja aset itu?

Ade Liansah, Tim Kurator Nyonya Meneer mengatakan berdasarkan penelusuran timnya terdapat 13 objek harta tidak bergerak yang berhasil diidentifikasi.

Dari jumlah ini enam aset berupa pabrik dan kantor atas nama Nyonya Meneer. Sedangkan tujuh lainnya atas nama pihak ketiga yang terkait perusahaan yakni Direktur Utama Charles Saerang serta PT Mutiara Citra Harapan sebagai entitas pemegang saham Nyonya meneer.

“Untuk aset pihak ketiga [Charles dan PT Mutiara] masih abu-abu karena perlu pembuktian. Yang bisa kami pastikan enam objek. Semuanya di jaminkan ke Bank papua,” katanya

Selain itu terdapat mesin pabrik dan tiga unit kendaraan. Akan tetapi mesin pabrik berada dalam kondisi buruk sedangkan kendaraan masih atas nama pihak ketiga.

Ade mengatakan tim juga menemukan 72 kekayaan intelektual seperti produk minyak telon hingga beragam merek jamu Nyonya Meneer.

“Akan tetapi sebagian besar dalam kondisi sudah kadaluarsa. Tapi ini dapat diperpanjang,” katanya.

Ade mengatakan belum dapat memperkirakan nilai aset yang dimiliki perusahaan. Akan tetapi dapat dipastikan nilai aset di bawah tagihan kreditor.

Pasalnya untuk lahan pabrik dalam posisi tergenang banjir rob, sedangkan mesin yang ada sudah tidak tidak terawat .

“Saya belum dapat memperkirakan nilainya, kami menunggu tim appraisal. Diperkirakan setelah tanggal 4 Oktober akan dilakukan appraisal,” katanya.

Ade mengatakan penyebab baru dilakukan appraisal pada awal Oktober 2017 mendatang dikarenakan pihaknya menunggu berakhirnya masa insolvensi dari Bank Papua.

Diketahui bank dari ujung timur Indonesia itu memiliki tagihan Rp75 miliar dari perusahaan dan dalam proses lelang aset yang dikuasai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pailit, Nyonya Meneer

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top