Pelestarian Kain Tradisional Dihadapkan Soal Regenerasi

Kain dan masyarakat adat adalah dua elemen yang tidak bisa dipisahkan. Kain telah menjadi warisan yang berharga bagi kaum adat.
Nindya Aldila | 25 Agustus 2017 21:04 WIB
Pengrajin menyulam motif tapis di salah satu rumah warga di Kampung Tapis Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. - Antara/Ardiansyah

Kabar24.com, JAKARTA - Kain dan masyarakat adat adalah dua elemen yang tidak bisa dipisahkan. Kain telah menjadi warisan yang berharga bagi kaum adat. Namun, permasalahan regenerasi dan keterbatasan sumber daya alam masih menjadi kendala bagi pelestarian kain tradisional. 

Barisan Pemuda Adat Nusantara John Toni Tarihoran mengatakan di tengah euforia memakai pakaian tradisional, perajin kain tradisional harus menghadapi besarnya arus perdagangan industri kain printing. Dengan begitu, harga kain industri jauh lebih murah ketimbang kain yang diproduksi sendiri.

Selain itu, ketersediaan sumber daya alam sebagai bahan baku pembuatan kain tradisional sudah semakin menipis, bahkan nihil. Contohnya, kain lantung yang berasal dari Bengkulu dan mebha atau pakaian kulit kayu dari Sulawesi Selatan.

“Mereka menenun bisa berbulan-bulan. Mereka harus menerjemahkan motif yang ada di kepalanya untuk diteruskan melalui alat sehingga ini kesulitan tersendiri. Anak muda tidak mau lagi menenun karena mereka kalah bersaing dengan produksi pabrik,” ujarnya.

Dampaknya, lanjutnya, ilmu menenun akan hilang dan identitas juga akan hilang, Motif kain tradisional terancam mengalami pencurian. Untuk itu, dia meminta pemerintah untuk melindungi identitas masyarakat adat yang tertera dalam kain tradisional.

Deputi IV bidang Kebudayaan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) Mina Susana Setra menambahkan, pelestarian kain tradisional sebenarnya tidak berhenti dengan memakainya saja, tetapi justru upaya untuk menjauhkan kain tradisional dari kemungkinan punah.

Jadi jika ingin meneruskan kain ini berkaitan dengan banyak hal. Bukan hanya memastikan kebijakan terhadap kain atau memuseumkan kain tersebut, tetapi bagaimana tetap memproduksi dan memastikan materialnya tersedia dengan bekerja sama antar elemen di semua elemen pemerintahan.

“Alam kita sudah rusak. Banyak kampung jadi kebun sawit semua. Maka kita butuh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk membuat regulasi yang mengamankan sumber daya alam untuk kain. Kalau hutan tidak ada, akhirnya kita beli kain dari printing dari China,” katanya.

Tag : kain adat
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top