Cerita Luhut Pandjaitan Soal Pilkada DKI, Radikalisme dan Investasi

Cerita Luhut Pandjaitan Soal Pilkada DKI, Radikalisme dan Investasi
Andhika Anggoro Wening
Andhika Anggoro Wening - Bisnis.com 25 Mei 2017  |  18:28 WIB
Cerita Luhut Pandjaitan Soal Pilkada DKI, Radikalisme dan Investasi
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. - JIBI

Kabar24.com, JAKARTA - Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan dalam siaran persnya menceritakan pengalamannya mengenai beberapa peristiwa yang dialaminya dalam waktu beberapa belakangan ini termasuk soal Pilkada DKI, radikalisme dan investasi.

Berikut catatan Luhut yang diterima redaksi Bisnis.

Apakah pilkada Jakarta telah mengubah Indonesia menjadi radikal? Topik ini menjadi perhatian internasional. John Berisford, President of Standard and Poors Global Ratings (S&P), adalah salah satu yang menanyakannya langsung ketika kami bertemu di Washington bulan lalu.

Pertanyaan tersebut saya jawab dengan, “tidak!”

Saya kemudian menjelaskan bahwa strategi pembangunan pemerintah Indonesia tidak mengacu pada pertumbuhan ekonomi semata, tapi juga pada kesetaraan. Hal ini penting karena radikalisme adalah buah dari kemiskinan dan ketidakadilan.

Contoh program pemerataan yang sudah dijalankan pemerintah adalah pendistribusian dana desa ke lebih dari 74.000 desa di seluruh Indonesia. Kesenjangan berhasil dikurangi, tapi pemerintah butuh uang untuk tetap terus menjalankannya.

Salah satu jalan mendapatkan uang adalah melalui investasi. Untuk dapat lebih dipercaya investor dunia, rating investment  grade dari S&P menjadi penting untuk menurunkan cost of fund misalnya. Masalahnya, credit rating Indonesia bulan lalu masih BB+, hanya 1 notch di bawah investment grade.

Melihat kondisi ini, saya kemudian mengembalikan pertanyaan tersebut kepada John, “Jadi kalau kamu nggak kasih investment grade ke Indonesia, kamu sama saja membantu menghidupkan radikalisme di Indonesia.”

Mendengar itu, John kontan terloncat sembari berkata, “Ok, I will evaluate.”

Harus kita syukuri bahwa minggu lalu akhirnya Indonesia memperoleh investment  grade dari S&P, pertama sejak zaman Orde Baru tahun 1996. Tidak hanya itu, transformasi Indonesia juga ditandai dengan cadangan devisa yang tembus di atas USD 124 miliar, tertinggi sepanjang sejarah Republik ini berdiri. Laporan keuangan pemerintah mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK, pertama sejak 2002. Tentu ini semua hasil kerja keras pemerintah Indonesia dan banyak pihak, terutama Menkeu Ibu Sri Mulyani yang mendukung saya dengan keahliannya yang melebihi saya di bidang ini.

Satu hal yang sangat penting, dari John saya justru melihat bahwa orang asing saja bisa peduli dengan keutuhan Indonesia. Lantas bagaimana dengan kita sendiri?

Kita semua berduka dan menyesalkan terjadinya aksi teror di Kampung Melayu semalam. Tidak seharusnya sesama Warga Negara Indonesia justru saling menciderai.

Maka sebaiknya kita sama-sama menjaga agar kejadian serupa tidak terulang. Mari ikut berkontribusi dengan menciptakan keadilan di sekitar kita. Seperti saya sampaikan kepada para investor yang saya temui awal minggu ini, bahwa pengusaha jangan hanya sibuk memperkaya diri. Tapi buatlah program-program CSR yang memperbaiki pendidikan di sekitarnya dan membangkitkan ekonomi kecil dalam bentuk plasma-plasma. Tingkatkanlah penggunaan produk lokal dalam industri untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kecil dan menengah.

Jangan juga sebarkan berita-berita negatif lewat sosmed ataupun WA, tapi sebarkanlah confidence bahwa kita bisa menjadi Bangsa yang lebih baik.

Jika beberapa hari yang lalu kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional, maka ini adalah saatnya kita benar-benar bangkit dengan mulai dari hal-hal kecil yang konkrit sesuai dengan kapasitas kita.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Luhut Pandjaitan

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top