Aktivitas Impor Negara Berkembang Topang Pemulihan Perdagangan Dunia

Aktivitas impor yang kuat dari negara-negara berkembang menjadi salah satu pendorong utama pemulihan aktivitas perdagangan dunia tahun ini.
Yustinus Andri DP | 17 Mei 2017 18:55 WIB
ILUSTRASI - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA—Aktivitas impor yang kuat dari negara-negara berkembang menjadi salah satu pendorong utama pemulihan aktivitas perdagangan dunia tahun ini.

S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya menyebutkan, aktivitas impor global telah meningkat hingga  4,1% secara year on year (yoy) selama dua bulan pertama pada 2017. Pertumbuhan impor pada Januari-Februari tersebut tumbuh lebih cepat dari periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 1,3%.

Selain itu, capaian pada awal tahun ini tersebut berada di atas kecepatan rata-rata tahunan sejak 2012 yakni  2%.

"Pertumbuhan perdagangan dunia sedang mendapatkan momentum terbaiknya setelah periode pelemahan yang berkepanjangan," kata ekonom S & P Tatiana Lysenko, seperti dikutip dari Reuters (17/5/2017).

Menurut Lysenko,  negara-negara Uni Eropa menjadi yang paling besar menerima keuntungan dari fenomena kenaikan aktivitas impor negara berkembang tersebut. Seperti diketahui, blok terbesar di Benua Biru tersebut saat ini telah menjadi salah satu  eksportir barang dan jasa terbesar di dunia.

Dampak kepada negara-negara Uni Eropa tersebut setidaknya tercermin pada kenaikan aktivitas ekspor sejumlah negara pada kuartal I/2017 seperti Jerman dan Spanyol. Sebelumnya, Pemerintah Jerman melaporkan ekspor nasional naik  5,5% secara yoy sepanjang Januari- Maret, sementara Spanyol membukukan kenaikan 13% pada periode yang sama.

Secara khusus S&P melaporkan, volume impor ke negara berkembang berhasil melonjak hampir 10% pada dua bulan awal 2017 setelah hampir mengalami stagnasi sepanjang 2016.

Apa yang terjadi di negara berkembang tersebut sangat kontras dengan negara maju, di mana pertumbuhan impor melambat menjadi 0,4% pada periode yang sama. Padahal pada tahun lalu, secara kumulatif laju impor berhasil tumbuh 1,9 %.

Lysenko menyebutkan, pemulihan aktivitas impor negar aberkembang di antaranya didukung oleh pemulihan harga komoditas. Negara-negara yang selmaa ini menggantungkan perekonomiannya pada ekspor komoditas seperti Rusia dan Brazil, mulai menunjukkan kenaikan yang siginifikan dalam aktivitas impornya.

“Faktor kedua yang membuat permintaan impor negara berkembang pulih adalah mulai terapresiasinya mata uang mereka,” tulis S&P dalam laporannya.

Seperti diketahui, nilai tukar mata uang Rusia tercatat telah terapresiasi 40% selama 16 bulan terakhir. Sementara itu, mata uang Brazil naik 30% pada periode yang sama.

Sebelumnya, pada April, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) melaporkan proyeksi terbarunya yang menyebukan perdagangan global berpotensi tumbuh  2,4% pada tahun ini. Meskipun demikian, pertumbuhan positif tersebut masih berpeluang tertekan kembali, terutama apabila Amerika Serikat resmi memberlakukan proteksi perdagangan.

Tag : ekonomi global, ekspor china
Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top