Lanskap Kubu Harus Dilindungi Sebagai Transit Burung Asal Australia

World Wide Fund (WWF) Indonesia-Kalimantan Barat berharap tumbuhan bakau atau mangrove di lanskap kubu, Kabupaten Ketapang dilindungi dan dirawat dengan baik melalui pendekatan kearifan lokal.
Yanuarius Viodeogo | 27 April 2017 02:28 WIB
Seekor mamalia laut muncul di permukaan perairan sekitar lanskap kubu belum lama ini - Jibi/WWF Kalbar.

Bisnis.com, PONTIANAK -- World Wide Fund (WWF) Indonesia-Kalimantan Barat berharap tumbuhan bakau atau mangrove di lanskap kubu, Kabupaten Ketapang dilindungi dan dirawat dengan baik melalui pendekatan kearifan lokal.

Species Officer Landscape Kubu WWF-Indonesia Program Kalbar Dewi Puspitasari mengatakan, keberadaan mangrove di lanskap Kubu tersebut sangat penting untuk menjaga habitat biota sekitarnya dan bahkan sebagai persinggahan burung-burung dari Asia Utara, Siberia, Australia dan New Zealand.

"Lanskap ini persinggahan burung-burung migrasi dari asia utara sebelum lanjut ke selatan, sementara yang dari selatan seperti dari Australia dan New Zealand mampir sebelum ke utara," kata Dewi kepada Bisnis, Rabu (26/4/2017).

Dia menyebutkan ada 112 jenis burung yang teridentifikasi pernah mampir di lanskap tersebut.

Selain itu, lanskap ini juga menjadi tempat tinggal sejumlah mamalia laut, bekantan, herpet dan jenis dan bangau storm.

Menurutnya, kondisi hutan mangrove yang baik dengan sendirinya menciptakan ruang hidup yang unik juga khususnya bagi satwa-satwa yang membutuhkan ruang termasuk jenis satwa yang mampu beradaptasi di hutan rawa.

"Jika ada pemanfaatan bakau mengabaikan konsep kelestarian tentu diikuti ikutan bagi kegiatan lain seperti penebangan secara sembarangan yang bisa menyebabkan yang bisa memunculkan abrasi," ungkapnya.

Selain itu, tambahnya, perluasan lahan pertanian juga harus mengedepankan prinsip pemanfaatan lahan ramah lingkungan tidak membakar lahan dan tidak menggunakan pestisida yang berdampak pada pemusnahan jenis tertentu.

Ketua Jejak Pesisir Nusantara (JPN) Yuan, saat ini mendampingi pelatihan alat tangkap ramah lingkungan, pelatihan olahan produk jadi hasil perikanan, pendampingan penyusunan peraturan desa daerah perlindungan laut di tujuh desa.

JPN adalah lembaga yang berkomitmen mengelola sumber daya alam pesisir ramah lingkungan dan berkelanjutan dalam pendampingan masyarakat di lanskap itu.

"Kami selalu mengajak masyarakat mengutamakan peningkatan pendapatan dengan mengembangkan okonomi alternatif ketimbang membuat kegiatan yang tidak berkelanjutan," tuturnya.

Tag : pontianak, wwf
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top