Analisis Kemenangan Erdogan di Referendum Turki

Banyak kritik kepada Turki, karena dalam keadaan darurat mengadakan pemilihan umum. Referendum digunakan ntuk mengubah beberapa pasal dalam UUD, namun sebenarnya yang di inginkan adalah pemusatan seluruh kekuasaan pada satu orang, yaitu kepada Erdogan.
Selim Caglayan | 18 April 2017 20:06 WIB
Selim Caglayan, Wartawan Senior dari Turki, Tinggal di Jakarta

Banyak kritik kepada Turki, karena dalam keadaan darurat mengadakan pemilihan umum. Referendum digunakan ntuk mengubah beberapa pasal dalam UUD, namun sebenarnya yang di inginkan adalah pemusatan seluruh kekuasaan pada satu orang, yaitu kepada Erdogan.

Dalam masa referendum ini seluruh media berada dalam genggaman tangan Erdogan. Setiap hari, siang malam, hampir seluruh chanel televisi dan koran harian memberitakan kepada masyarakat bahwa, "Referendum akan membawa kesejahteraan dan kedamaian kepada Turki".

Namun, sayangnya banyak masyarakat Turki yang tidak dapat mengakses berita yang akurat. Karena sejak tahun lalu, rezim Erdogan telah memulai menutupan media-media Turki. Sampai saat ini di Turki telah ditutup 149 perusahaan media.

Perusahaan media yang ditutup tersebut adalah televisi-televisi yang paling populer. Koran-koran yang paling banyak dibaca dan kantor berita terbesar (Cihan News Agency).

Bahkan, 231 wartawan senior dan terkenal di penjara. Mereka telah di penjara hampir setahun tanpa dugaan yang jelas dan tanpa bukti.

Kekuatan pemerintah dan kekuatan ekonomi berada pada Erdogan, hampir seluruh bangunan besar, taman kota, bahkan batu besar di pegunungan pun dipenuhi dengan banner Erdogan.

Dia menggunakan seluruh kekuatan termasuk gubernur, bupati, militer, polisi, birokrat, erdogan menggunakannnya untuk kampanyenya.

Target pemilu Erdogan adalah para nasionalis dan politikus radikal agamis. Dengan perkataan-perkataan radikal dan mengandung kebencian bahwa "musuh akan menghancurkan negara kita, lalu krisis ekonomi datang, lalu kelaparan melanda".

Erdogan berhasil menyatukan dua kubu yang berbeda tekstur ini. Namun, ia juga berhasil menambah kebencian setengah masyarakat Turki yang tidak setuju kepadanya. Bahkan, saat ini dapat dikatakan keadaan sosial politik Turki pecah menjadi dua.

Ketika pemilu terjadi beberapa hal yang janggal. Banyak video dan foto tersebar di media sosial saat orang-orang AKP melakukan pengecekan suara ilegal. Pro-AKP juga membagikan foto dan video di akun personal mereka ketika melakukan cap ilegal. Mereka sangat percaya diri karena meresa dilindungi oleh rezim Erdogan.

Tidak sampai di sini saja kecurangan yang mereka lakukan. YSK mengolah 1 juta suara ''tidak'' tetapi mengabulkan 2,5 juta suara tanpa segel resmi, hampir semua suara tanpa segel resmi ini datang dari bagian Timur Turki atau daerah Kurdi.

Atau daerah yang sebelum referandum banyak wali kotanya jatuh ke penjara karena berasal dari partai oposisi Turki HDP. Ketua HDP Selahattin Demirtas juga dipenjara. Dia orang politik paling populer di Turki.

Sayangnya, tetap saj suara hati tetaplah suara hati, tak bisa di bohongi. Dalam hasil referandum ini Erdogan kalah di 5 kota besar Turki seperti, Istanbul, Ankara, Izmir, Adana dan Diyarbakir.

Walaupun banyak tekanan, ancaman, kebohongan yang dilancarakan, masyarakat tetap bersikukuh. Belum pernah sejarahnya ada yang menang pemilu tetapi kalah di pemilihan kota besar, aneh bukan!

Malam Pemilihan

Pada malam pemilihan sebelum YSK mengumumkan seluruh hasil suara, Erdogan dan perdana mentrinya Binali Yildirim telah melakukan perayaan.

Mengumpulkan seluruh masyarakat dan merayakan kemenangannya. mungkin ini yang selama ini kita bilang percaya diri tinggi, atau sebaliknya kecurangan yang tinggi yang membuat mereka yakin menang. Jika anda melihat video pidato kemenangan Erdogan, Anda akan melihat banyak kecemasan di dalam raut wajahnya.

Satu jam setelah pidato Erdogan barulah YSK muncul dengan pengumuan hasil pemilihan suara, namun sampai saat ini (2 hari) belum ada penjelasan tentang dasar YSK mengabulkan suara-suara "iya" tak bersegel resmi tersebut.

Erdogan adalah orang yang sangat berambisi untuk menerapkan hukum mati kembali di Turki. Malam kemenangannya juga dia sempat mengatakan akan membicarakan soal ini. Entah apa yang di benak Erdogan, mungkin Erdogan akan mengancam hukum gantung bagi siapapun yang menentangnya.

Dengan seluruh peristiwa yang terjadi AKP tetap menyatakan bahwa mereka menang. Dan kita semua tetawa bersama, kita serahkan seluruhnya kepada Allah.

Hal yang membuat saya sangat sedih, beberapa ekonom dan ahli politik telah mengatakan krisis Turki sedang menghampiri dengan cepat.

Seluruh data yang terkumpul menunjukkan bahwa ekonomi sangatlah rapuh, setiap saat bisa saja terjadi perang sipil karena masyarakat terpecah satu sama lain. Seperti halnya tadi malam ada berita, pro-Erdogan menyerang orang-orang yang mengatakan bahwa suara telah dicuri.

Organisasi internasional seperti OSCE mengatakan, "kurangnya kesamaan kesempatan, media yang berpihak, dan pembatasan dalam kebebasan, menyebabkan tebukanya kesempatan yang lebar untuk perbuatan curang dalam referandum"

Di Turki, kelihatannya Erdogan menang dalam pemilihan ini, namun seluruh perdebatan tidak akan berhenti di sini dan masyarkat akan banyak memperdebatkan kesahan pemerintah Erdogan. Seluruh golongan masyarakat dunia akan selalu melihat dengan mata curiga kepada Erdogan.

 

* Selim Caglayan adalah Wartawan senior dari Turki, tinggal di Jakarta

Tag : turki
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top