Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekonomi Sumut Diproyeksi Tumbuh 5,1%

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatra Utara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mampu sedikit membaik yakni pada kisaran 5,1%-5,5%.
Febrany D. A. Putri
Febrany D. A. Putri - Bisnis.com 23 Desember 2016  |  18:04 WIB
Titi Gantung di Kota Medan - pemkotmedan
Titi Gantung di Kota Medan - pemkotmedan

Kabar24.com,MEDAN—Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah Sumatra Utara memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan mampu sedikit membaik yakni pada kisaran 5,1%-5,5%. Adapun, pendorong utama pertumbuhan diharapkan berasal dari perbaikan ekonomi domestik.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut Difi A. Johansyah menuturkan, perbaikan tersebut akan terjadi dengan perkiraan laju inflasi pada kisaran 4% plus minus 1%, atau lebih rendah dibandingkan dengan sepanjang tahun ini.

“Pasokan pangan akan kembali normal. Ini terkait dengan kondusi cuaca yang kondusif dan upaya pemprov serta pemda memperbaiki areal tanam khususnya cabai merah. Selain itu, belakangan harga komoditas ekspor utama seperti kelapa sawit dan karet juga membaik,” papar Difi di sela-sela Pertemuan Tahunan Bank Indonesia WIlayah Sumut, Jumat (23/12).

Walaupun demikian, Difi menilai prediksi perbaikan pertumbuhan ekonomi Sumut pada tahun depan masih memiliki banyak celah kelemahan. Dia merinci, ada empat celah yang belum dioptimalkan oleh Pemprov Sumut yakni infrastruktur, kualitas sumber daya manusia (SDM), hiirisasi perkebunan, dan kriminalitas.

“Harganya [komoditas] memang membaik tapi belum sustainable. Lebih dari 75% produk ekspor Sumut didominasi berbasi SDA, dan 15% berbasis teknologi rendah. Untuk mempercepat hilirisasi, langkah pemerintah untuk KEK [Kawasan Ekonomi Khusus] Sei Mangkei sudah tepat, apalagi terintegrasi dengan Pelabuhan Kuala Tanjung. Kami memperkirakan, pengembangan kawasan industri ini bisa menambah perekonomian Sumut 0,85% per tahun dan menaikkan penyerapan tenaga kerja 0,47%,” tambah Difi

Untuk kualitas SDM, dia mengemukakan, saat ini tenaga kerja terdidik level D1 ke atas di Sumut hanya 9% dari total tenaga kerja. Persentase ini lebih rendah dari Riau dan rerata nasional yang mencapai 10%.

Pengangguran di Sumut didominasi pendidikan SD ke bawah 35%, diikuti lulusan SMA 33%. Rendahnya kualitas tenaga kerja ini diiringi biaya tenaga kerja yang tinggi. Padahal, menurut BI Sumut, perbaikan kualitas ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi 0,28% per tahun dan perluasan penyerapan tenaga kerja 0,5% per tahun.

“Dari sisi kriminalitas, Sumut merupakan provinsi dengan tingkat tertinggi kedua setelah DKI Jakarta. Jumlahnya mencapai 12% dari total nasional. Perbaikan iklim keamanan ini mendorong ekonomi 0,12% per tahun dan penyerapan tenaga kerja 0,05% per tahun.”

Untuk infrastruktur, BI Sumut menilai masih menjadi hambatan besar, terutama keburukan kualitas jalan. Sumut memiliki jalan rusak berat terpanjang di Sumatra mencapai 239 km, terutama di pantai Barat. Perbaikan jalan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi 0,45% per tahun dan penyerapan tenaga kerja 0,15% per tahun. Peningkatan efisiensi perekonomian karena infrastruktur jalan juga mendorong ekspor naik 0,75%.

Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan, peluang perbaikan pertumbuhan ekonomi pada tahun depan sangat besar. Dia mengakui permasalahan terbesar adalah infrastruktur, ketersediaan listrik dan kualitas jalan.

“Kami terus berbenah. Terutama kelistrikan. Berdasarkan data BPMP [Badan Penanaman Modal dan Promosi], pada 2014-2015 investasi terbesar itu untuk pembangkit listrik. Saya optimistis kebutuhan kita bisa terpenuhi.”

Ekonom IAIN Sumut Gunawan Benjamin mengutarakan, target pertumbuhan ekonomi pada tahun depan cukup realistis. Kendati demikian, dia memperkirakan pertumbuhan hanya berada pada kisaran 5,2%-5,4%.

“Sejumlah indikator memang menunjukkan positif seperti harga komoditas. Hanya, saya meragukan harga sawit dapat meningkat konsisten pada tahun depan. Ini karena ada sentimen cuaca dan belum terlihat potensi kenaikan permintaan,” ucap Gunawan.

Sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian juga menanti yakni potensi tekanan inflasi, kenaikan harga minyak mentah dunia, dan penyesuaian tarif dasar listrik. Selain itu, Gunawan juga pesimistis kondisi dunia usaha akan membaik, tercermin dari proyeksi penyaluran kredit yang masih melambat.

“Yang harus dilakukan adalah langkah konkret. Percepat realisasi belanja. Dengan begitu pada tahun depan dapat menjadi tonggak pemulihan perekonomian Sumut,” pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi sumut
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top