Turki Abaikan Ancaman Eropa Soal Kebebasan Pers

Turki pada Selasa (1/11/2016) mengaku akan mengabaikan ancaman "harga mati" Eropa terkait kebebasan pers, sekaligus menepis kritik terhadap penangkapan sejumlah wartawan senior dari koran oposisi.
Martin Sihombing | 02 November 2016 01:48 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Bisnis.com, ISTANBUL -  Turki pada Selasa (1/11/2016) mengaku akan mengabaikan ancaman "harga mati" Eropa terkait kebebasan pers, sekaligus menepis kritik terhadap penangkapan sejumlah wartawan senior dari koran oposisi.

Sebelumnya pada Senin (31/10/2016), kepolisian Turki menangkap sejumlah redaktur dan petinggi surat kabar "Cumhuriyet" dengan tuduhan menghasut kudeta militer melalui pemberitaannya.

Langkah tersebut kemudian disambut kritik keras dari Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kepala perlemen Eropa, Martin Schulz, menyatakan penangkapan itu adalah pelanggaran atas "harga mati" terhadap kebebasan mengungkapkan pendapat.

"Kami tidak peduli dengan harga mati dari Anda. Hanya warga Turki berhak menentukannya. Lalu, apa pentingnya harga mati dari Anda," kata Perdana Menteri Binali Yildirim di parlemen Turki.

"Turki tidak akan tunduk pada ancaman apapun. Turki memperoleh kekuasaan dari warga dan hanya kepada warga kami bertanggung jawab," kata dia.

Surat kabar "Cumhuriyet", salah satu dari sedikit media kritis terhadap Presiden Tayyip Erdogan, dituding melanggar hukum dengan membela kelompok keras Kurdi dan jaringan Fethullah Gulen, ulama di balik kedute gagal Juli lalu yang kini tinggal di Amerika Serikat.

Wartawan surat kabar tersebut diduga memicu kudeta melalui "pesan tersembunyi" dalam sejumlah kolom menjelang terjadinya insiden tersebut, demikian kantor berita Anadolu melaporkan.

"Meskipun para penulis kami telah ditangkap, surat kabar ini akan terus berjuang untuk demokrasi dan kebebasan sampai titik penghabisan," demikian tajuk "Cumhuriyet".

Tajuk itu juga membela diri dengan menyatakan bahwa mereka telah berulang kali mengkritik Gulen karena berupaya mengubah garis sekularisme Turki menjadi negara agama. Cumhuriyet mengaku sering menjadi sasaran pejabat negara, yang dekat dengan Gulen.

Sementara itu, terkait kritik dari Uni Eropa, pemerintah Turki menyatakan bahwa blok tersebut telah mengabaikan besarnya ancaman terhadap negara dari aksi kudeta.

"Kami tidak mempunyai persoalan dengan kebebasan pers. Inilah yang tidak kami sepakati dengan Eropa. Mereka selalu membawa-bawa kebebasan pers saat kami berupaya menghancurkan terorisme," kata Yildirim.

Turki sejauh ini telah memecat lebih dari 110.000 pejabat negara pengikut Gulen. Sejumlah pembela hak asasi manusia mengkritik langkah tersebut karena dinilai terlalu berlebihan.

Pada Senin, wartawan veteran Kadri Gusel, yang baru bekerja untuk "Cumhuriyet" sejak Mei, ditangkap. Dengan demikian, 13 orang petugas surat kabar tersebut diciduk kepolisian.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
turki, kebebasan pers

Sumber : ANTARA/REUTERS
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top