Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BNPB: Indonesia Alami 1.569 Kali Bencana Sejak Awal 2016

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa selama periode 2016 ini, telah terjadi 1.569 kejadian bencana di Indonesia.
Sutopo Purwo Nugroho/Antara
Sutopo Purwo Nugroho/Antara

Kabar24.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan selama periode 2016 ini, telah terjadi 1.569 kejadian bencana di Indonesia.

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan dari 1.569 bencana tersebut telah menyebabkan korban sebanyak 265 orang tewas, 310 orang luka-luka, 2,1 juta jiwa menderita dan mengungsi, serta 23.048 rumah rusak.

"Sementara itu, dari total kejadian bencana tersebut, banjir dan longsor adalah yang paling dominan," ujarnya dalam pers yang diterima, Senin (19/9/2016).

Dia mengatakan banjir adalah jenis bencana yang paling banyak kejadiannya selama 2016, yaitu 554 kejadian dan menimbulkan 72 orang tewas, 93 orang luka-luka, dan 1,9 juta jiwa menderita dan mengungsi.

Namun, longsor adalah jenis bencana paling mematikan, karena dari 349 kejadian longsor selama 2016, longsor menyebabkan 130 orang tewas, 63 orang luka dan 18.728 jiwa mengungsi dan menderita.

Seperti halnya bencana pada 2014 dan 2015, longsor adalah bencana yang paling menimbulkan korban jiwa tewas. Ada 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia yang terpapar dari bahaya longsor sedang hingga tinggi. "Artinya mereka bertempat tinggal di daerah bahaya longsor yang dapat terjadi kapan saja, umumnya saat terjadi hujan lebat," ujarnya.

Menurutnya, kemampuan mitigasi masyarakat tersebut, baik mitigasi struktural maupun nonstruktural masih terbatas. Di satu sisi ancaman longsor makin meningkat seiring dengan meningkatnya curah hujan, baik intensitas maupun durasi hujan.

Sementara itu, guna mengantisipasi meningkatnya bencana longsor, BNPB telah membangun 72 unit sistem peringatan dini longsor di sejumlah titik. Pembangunan sistem peringatan dini longsor itu bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan telah dipasang selama 3 tahun terakhir, sejak 2014 hingga 2016.

Dia memaparkan bahwa pada 2014, atas perintah Presiden Joko Widodo, pascalongsor di Banjarnegara, BNPB dan UGM memasang 20 unit sistem peringatan dini longsor. "Kemudian dilanjutkan 35 unit pada 2015 dan 17 unit pada 2016," ujarnya.

Menurutnya, sebagian besar sistem peringatan dini longsor tersebut dipasang di Jawa yang memiliki risiko tinggi longsor seperti di Kabupaten Banjarnegara, Magelang, Kulon Progo, Banyumas, Cianjur, Bandung Barat, Trenggalek, Sukabumi, Bogor, Sumedang, Wonosobo, Garut dan sebagainya.

Selain itu, alat tersebut juga dipasang di daerah lain di luar Jawa seperti di Kabupaten Nabire, Aceh Besar, Buru, Lombok, Bantaeng, Sikka, Kerinci, Agam, Kota Manado dan lainnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper