Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Anak Osama Bin Laden akan Balas Dendam terhadap Amerika

Anak pemimpin Al Qaida Osama bin Laden mengancam akan membalas dendam terhadap Amerika Serikat karena telah membunuh ayahnya, menurut pesan audio yang disebarkan dalam jaringan.
Hamza bin Laden/Reuters
Hamza bin Laden/Reuters

Kabar24.com, JAKARTA - Anak pemimpin Al Qaida Osama bin Laden mengancam akan membalas dendam terhadap Amerika Serikat karena telah membunuh ayahnya, menurut pesan audio yang disebarkan dalam jaringan.

Hamza bin Laden, berjanji akan meneruskan peperangan kelompok militan global itu melawan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Tekad itu dinyatakan Hamza melalui pidato 21 menit dengan tema "Kita Semua Adalah Osama," kata SITE Intelligence Group, lembaga pelacak kegiatan organisasi-organisasi garis keras.

"Kami akan terus menyerang kalian dan menargetkan kalian di negara kalian maupun di luar negeri sebagai balasan atas penindasan terhadap rakyat Palestina, Afghanistan, Suriah, Irak, Yaman, Somalia dan di seluruh tanah Muslim yang tidak selamat dari penindasan kalian," kata Hamza.

"Pembalasan dendam oleh negara Islam untuk Syekh Osama, semoga Allah mengampuni beliau, bukan pembalasan dendam bagi Osama pribadi, tapi pembalasan bagi mereka yang telah membela Islam."

Osama bin Laden dibunuh di tempat persembunyiannya di Pakistan oleh komando Amerika Serikat pada 2011.

Terbunuhnya Osama merupakan pukulan besar bagi kelompok militan yang melancarkan serangan 11 September 2001 itu.

Dokumen-dokumen yang ditemukan dari kediaman bin Laden dan diterbitkan oleh Amerika Serikat tahun lalu memunculkan dugaan bahwa pembantu-pembantu bin Laden berupaya untuk membawa kembali pemimpin militan itu melalui Hamza, yang telah menjalani penahanan rumah di Iran.

Hamza, yang sekarang berusia pertengahan dua puluhan, berada di sisi ayahnya di Afghanistan sebelum serangan 11 September terjadi. Ia menghabiskan waktu dengan ayahnya di Pakistan setelah serangan pimpinan AS memukul mundur kepemimpinan Al Qaida di negara itu, menurut Brookings Institution.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Nancy Junita
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper