Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Per Hari 24 Orang Kehilangan Rumah

Pengusiran paksa global naik tajam pada 2015 hingga mencapai tingkat tertinggi, kata Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) di dalam laporan yang disiarkan di Pretoria.
Martin Sihombing
Martin Sihombing - Bisnis.com 22 Juni 2016  |  15:02 WIB
Di seluruh dunia, Per hari 24 orang kehilangan tempat tinggal. - REUTERS
Di seluruh dunia, Per hari 24 orang kehilangan tempat tinggal. - REUTERS

Bisnis.com, JOHANNESBURG -  Pengusiran paksa global naik tajam pada 2015 hingga mencapai tingkat tertinggi, kata Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) di dalam laporan yang disiarkan di Pretoria.

UNHCR mencatat rata-rata 24 orang kehilangan tempat tinggal setiap hari. Pada 2005, jumlah orang yang terusir dari rumah mereka adalah enam setiap menit.

Konflik dan penghukuman adalah penyebab utama kecenderungan lonjakan tersebut, kata laporan tahunan Global Trends --yang melacak pengusiran paksa di seluruh dunia dengan dasar dari pemerintah, mitra dan laporan milik organisasi itu sendiri.

Laporan itu mengatakan 65,3 juta orang kehilangan tempat tinggal pada akhir 2015, dibandingkan dengan 59,5 juta cuma 12 bulan sebelumnya, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Rabu pagi. Itu adalah untuk pertama kali jejak 60 juta orang telah dilacak.

Sebanyak 65,3 juta orang dibandingkan dengan 3,2 juta orang di negara industri yang, hingga akhir 2015, menunggu keputusan suaka; 21,3 juta pengungsi di seluruh dunia, yang merupakan tingkat tertinggi sejak awal 1990-an; 40,8 juta orang yang telah dipaksa meninggalkan rumah mereka tapi masih berada di dalam negeri mereka, naik 2,6 juta dari 2014 dan jumlah paling banyak yang dicatat.

Diukur dengan perbandingan 7,349 miliar penduduk dunia, jumlah tersebut berarti satu dari setiap 113 orang di dunia kini menjadi pencari suaka, orang yang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka atau menjadi pengungsi, tingkat resiko yang tak pernah ada sebelumnya, kata laporan itu.

Laporan tersebut mencatat setelah berbagai alasan bagi situasi yang meningkat yang mengakibatkan banyak arus pengungsi berlangsung lebih lama; situasi dramatis yang terpicu atau baru seringkali terjadi dan angka penyelesaian sedang diusahakan bagi pengungsi serta orang yang menjadi pengungsi di dalam negeri mereka telah menjadi kecenderungan penurunan sejak akhir Perang Dingin.

"Di laut, jumlah pengungsi dan migran yang sangat banyak meninggal setiap tahun; di darat, orang yang menyelamatkan diri dari perang menghadapi jalan mereka terhalang oleh perbatasan yang ditutup. Politik meningkatkan penentangan terhadap pencari suaka di beberapa negara. Kesediaan negara untuk bekerjasama bukan hanya bagi pengungsi tapi buat kepentingan kemanusiaan secara umum adalah yang menjadi ujian hari ini, dan semangat persatuan ini lah yang sangat diperlukan bagi keberhasilan," kata Komisaris Tinggi PBB Urusan Pengungsi Filippo Grandi.

Tiga negara menghasilakn separuh jumlah pengungsi di dunia adalah Suriah dengan 4,9 juta, Afghanistan dengan 2,7 juta dan Somalia dengan 1,1 juta orang.

Ketiga negara itu secara bersama menghasilkan lebih dari separuh pengungsi berdasarkan catatan UNHCR di seluruh dunia, kata laporan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

unhcr Tunawisma

Sumber : (Antara/Xinhua-OANA)

Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top