Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Diminta Siaga

Selama tahun 2016, telah terjadi 1.053 bencana di Indonesia yang menyebabkan 157 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,7 juta jiwa menderita dan mengungsi.
Foto ilustrasi banjir Bandang di Desa Sintiwu, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah/Antara-Fiqman Sunandar
Foto ilustrasi banjir Bandang di Desa Sintiwu, Palolo, Sigi, Sulawesi Tengah/Antara-Fiqman Sunandar

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginstruksikan kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNBD) seiring munculnya gejala dampak perubahan iklim.

"BNPB telah memerintahkan semua BPBD yang memiliki potensi hujan lebat agar tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, longsor dan puting beliung," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Sabtu (18/6/2016).

BPBD, kata dia, diminta mengacu pada peta rawan bencana yang telah dibagikan. Masyarakat agar selalu diberikan informasi ancaman bencana dan sosialisasi ditingkatkan.

Dia mengatakan BPBD juga supaya mengkoordinir potensi daerah agar siap menghadapi segala kemungkinan terburuk. Logistik dan peralatan yang ada di gudang BPBD agar digunakan untuk penanganan darurat. Tim Reaksi Cepat BNPB telah disiapkan untuk dapat diterjunkan ke lokasi bencana dalam kurun waktu kurang dari 24 jam untuk mendampingi BPBD dalam penanganan darurat.

Menurut dia, cuaca dan musim menjadi kian tak menentu dan sulit diprediksikan. Curah hujan dengan intensitas tinggi makin sering terjadi di banyak wilayah di Indonesia. Dampaknya banjir, longsor dan puting beliung makin meningkat.

Sutopo mengatakan lebih dari 95% bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu bencana yang dipengaruhi faktor cuaca dan iklim seperti banjir, longsor, puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan serta gelombang pasang.

Selama tahun 2016, kata dia, berdasarkan data sementara hingga Jumat (17/6/2016) telah terjadi 1.053 bencana di Indonesia yang menyebabkan 157 orang meninggal dunia dan lebih dari 1,7 juta jiwa menderita dan mengungsi.

Ratusan ribu rumah, kata dia, rusak akibat bencana. Banjir mendominasi kejadian bencana yaitu 429 kejadian, puting beliung 310 kejadian dan longsor 255 kali kejadian. Tercatat 142 orang meninggal akibat banjir dan tanah longsor.

"Saat ini harusnya sebagian besar wilayah Indonesia memasuki awal musim kemarau. Pertengahan bulan Juni umumnya sudah kemarau," katanya.

Namun saat ini, lanjut Sutopo, hujan berintensitas tinggi masih sering turun. Fenomena La Nina diperkirakan baru terdeteksi pada Juli, Agustus dan September nanti, yang akan berimbas pada meningkatnya hujan selama musim kemarau. Musim kemarau mendatang adalah musim kemarau basah artinya selama musim kemarau curah hujan masih sering terjadi.

Menurut Sutopo, ada dampak positif dan negatif dari fenomena La Nina tesebut. Dampak positif adalah kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan tidak akan parah. Produktivitas pertanian khususnya padi, jagung dan palawija akan meningkat karena pasokan air tetap tersedia.

Produksi listrik dari PLTA, kata dia, juga tidak akan banyak masalah karena debit sungai dan hujan masih cukup memasok waduk, danau dan bendungan.

Dampak negatif kemarau basah, kata Sutopo, adalah potensi banjir, longsor dan puting beliung akan tetap tinggi selama kemarau. Pertanian khususnya tembakau dan bawang merah akan terdampak akibat hujan selama musim kemarau.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Setyardi Widodo
Sumber : Antara

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper