Kelompok Santoso: Orang Tua Fadlan Minta Anaknya Dibina Negara

Orang tua Muhammad Ovan Fadlan, warga Kota Dumai yang diduga bergabung ke kelompok Santoso, berharap negara membina anaknya karena diprediksi belum terlalu jauh mengikuti paham radikal tersebut.
Newswire | 02 Mei 2016 17:57 WIB
Prajurit TNI menyusuri jalan setapak dalam hutan untuk memburu kelompok Santoso di Desa Sedoa, Lore Utara, Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (24/3/2016). - Antara/Edy

Kabar24.com, DUMAI - Penangkapan pengikut kelompok Santoso menjadi kabar mengagetkan bagi orang tua Muhammad Ovan Fadlan.

Pasalnya, Fadlan pergi meninggalkan rumah tanpa meminta izin dan memberi tahukan kemana tujuannya.

Orang tua Muhammad Ovan Fadlan, warga Kota Dumai yang diduga bergabung ke kelompok Santoso, berharap negara membina anaknya karena diprediksi belum terlalu jauh mengikuti paham radikal tersebut.

"Saya berharap Fadlan dapat pembinaan lebih jauh dari negara karena dirasa dia belum terlalu lama bergabung sejak pergi dari rumah 2015 kemarin," kata Rivai Hasbi, orang tua Muhammad Ovan Fadlan kepada wartawan, Senin (2/5/2016).

Dia kaget ketika mengetahui pemberitaan putranya yang sudah tidak diketahui keberadaan sejak 2015 silam itu diamankan tim Operasi Tinombala 2016 di Poso karena diduga bergabung dengan kelompok Santoso.

Rivai menyebutkan bahwa Fadlan terakhir kali meninggalkan rumah pada 2015 lalu tanpa pamit dan sejak kepergian saat itu putus komunikasi hingga mendapat informasi soal dugaan bergabung ke kelompok Santoso.

Sebelumnya pada 2014 Fadlan sempat pergi ke Jakarta untuk alasan bekerja di salah satu perusahaan di Tangerang, dan setelah itu kembali ke Dumai karena habis kontrak.

"Saya kaget dipanggil dan diperiksa intel polisi karena Fadlan diamankan di Poso dan diduga bergabung dengan kelompok Santoso," sebutnya.

Komandan Kodim 0320/Dumai Letkol (Kav) Rendra Adrian Siagian menjelaskan, satu warga Kota Dumai diduga kuat bergabung dengan kelompok jaringan teroris Santoso dan sudah diamankan di Poso Pesisir.

Pihaknya menduga sebelum berangkat ke Jakarta, Fadlan terlebih dahulu dipengaruhi untuk masuk kelompok jaringan teroris tersebut, namun siapa perekrut serta keberadaannya hingga kini masih terus ditelusuri.

"Kita akan cari siapa yang merekrutnya karena dia mudah terpengaruh, dan Kodim berupaya mengawasi pergerakan perekrut kelompok radikal ini," jelasnya kepada pers.

Dia menambahkan, sejumlah kelompok radikal patut diwaspadai keberadaannya, seperti ISIS dan Gafatar karena tanpa disadari dapat menimbulkan konflik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kelompok Santoso

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top