Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Wanita Diculik: Polisi Bekuk 6 Tersangka

Petugas Polda Metro Jaya membekuk kelompok terdiri atas enam tersangka penyekapan terhadap seorang wanita yang berprofesi sebagai pengusaha, Puspita Widyasari (42).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 08 April 2016  |  13:43 WIB
Pengusaha Wanita Diculik: Polisi Bekuk 6 Tersangka
Ilustrasi penculikan - Antara

Kabar24.com, JAKARTA - Petugas Polda Metro Jaya membekuk kelompok terdiri atas enam tersangka penyekapan terhadap seorang wanita yang berprofesi sebagai pengusaha, Puspita Widyasari (42).

"Ada enam orang tersangka," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti di Jakarta Jumat (8/4/2016).

Krishna menyebut, satu dari enam tersangka itu merupakan Direktur PT. Nahda Mentari yakni Adnan Akbar alias Adnan (25).

Sementara, lima tersangka lainnya yaitu Achmad Machrum, Rudy Lakuy, Achmad, Yubus Rumadaul alias Ongen dan Asep Soe Rahayu.

Kepala Subdirektorat Reserse Mobil Ditreskrimum Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Polisi Eko Hadi Santoso menambahkan, petugas menangkap para tersangka di kantor Adnan kawasan Jalan Baung Tanjung Priok Jakarta Utara pada Jumat (8/4/2016) dini hari.

Eko menjelaskan, para pelaku menyekap korban Puspita selama empat hari, kemudian meminta uang kepada keluarga sebesar Rp620 juta.

"Korban tidak boleh keluar selama tidak memberikan uang Rp620 juta kepada pelaku," tutur Eko.

Selain meringkus para tersangka, polisi menyita barang bukti lima lembar KTP, SIM C atas nama tersangka Adnan dan delapan unit telepon selular.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

penculikan

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top