Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TNI: Masyarakat Perlu Waspadai Proxy War. Gafatar Bisa Jadi Salah Satu Bentuknya

Tentara Nasional Indonesia mengingatkan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah agar mewaspadai "proxy war" atau ancaman yang tidak tampak namun dampaknya berbahaya.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 21 Maret 2016  |  18:10 WIB
Polisi menunjukkan foto satu keluarga yang hilang berikut atribut bendera Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Mapolresta Depok, Jawa Barat, Selasa (19/1/2016). - Antara/Indrianto Eko S
Polisi menunjukkan foto satu keluarga yang hilang berikut atribut bendera Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) di Mapolresta Depok, Jawa Barat, Selasa (19/1/2016). - Antara/Indrianto Eko S

Kabar24.com, JAKARTA - Masyarakat di wilayah Kalimantan diimbau mewaspadai proxy war berupa penyusupan paham-paham tertentu.

Tentara Nasional Indonesia mengingatkan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah agar mewaspadai "proxy war" atau ancaman yang tidak tampak namun dampaknya berbahaya.

"Proxy war itu bisa menghancurkan budaya dan tatanan kehidupan bernegara kita. Murah-murah meriah tapi dampaknya sangat besar. Musuh tidak mengerahkan senjata untuk perang terbuka, tetapi memanfaatkan situasi. Setelah terjadi gangguan, lalu mereka masuk dengan berbagai cara," kata Kepala Staf Kodim 1015 Sampit Mayor Kav Sofyan di Sampit, Senin (21/3/2016).

Pesan itu disampaikan Sofyan di depan puluhan mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang mengikuti pembinaan.

Para mantan anggota organisasi terlarang tersebut berjumlah 53 jiwa, terdiri 24 dewasa dan sisanya anak-anak.

Mereka membaca dan menandatangani ikrar untuk kembali pada ideologi Pancasila dan ajaran agama yang benar.

Sofyan menyebut, Gafatar bisa jadi merupakan salah satu bentuk proxy war yang ingin mengacaukan daerah dan negara ini dengan memanfaatkan masyarakat.

Gafatar mampu "mencuci" otak sehingga banyak warga yang ikut bergabung.

Dengan berbagai pemahaman salah yang diberikan kepada warga, akhirnya muncul ketidakpercayaan terhadap agama, orangtua dan ideologi Pancasila.

Organisas terlarang ini menganggap pemerintah tidak pernah ada di tengah-tengah masyarakat.

Bahkan ada keinginan kelompok ini menciptakan kitab suci dan negara sendiri.

Para mantan anggota Gafatar diimbau benar-benar kembali pada ideologi Pancasila dan ajaran agama yang benar.

"Anda selalu katakan Gafatar sudah dibubarkan, tapi saya minta ideologi ajaran Gafatar harus benar-benar ditinggalkan. Kalau tidak maka akan percuma. Anda semua harus tahu bahwa ada grand design tertentu di balik itu semua. Kami tegaskan, tidak ada tempat bagi kelompok atau orang yang melawan ideologi Pancasila di negara ini," tegas Sofyan.

Masyarakat juga harus mewaspadai ancaman melalui cyber war yakni dengan modus pengaruh melalui teknologi, khususnya internet. Sebagai negara dengan pengguna internet terbesar, Indonesia sangat rawan menjadi target pihak tertentu yang menggunakan cara ini. Pelaku "mencuci otak" melalui isu-isu memanfaatkan internet dengan menjelekkan pemerintah dan negara sehingga muncul dampak negatif terhadap masyarakat.

Salah satu cara menghadapi ancaman proxy war ini adalah dengan memperkuat kepribadian bangsa yang tercermin dalam Pancasila. Proxy war dapat ditangkal dengan menumbuhkan budaya gotong royong dan rasa nasionalisme pada setiap warga negara.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gafatar Proxy War
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top