Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Krisis Timur Tengah: Sikap Inggris Terhadap Assad Tergantung Pidato Cameron

Sebagian kalangan mengharapkan agar Cameron dapat memperhalus sikapnya terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam pidatonya di PBB.
Novie Isnanda Pratama
Novie Isnanda Pratama - Bisnis.com 28 September 2015  |  16:54 WIB
PM Inggris David Cameron - Reuters
PM Inggris David Cameron - Reuters

Kabar24.com, New York - Perdana Menteri Inggris David Cameron diharapkan dapat memperhalus sikapnya terhadap presiden Suriah Bashar al-Assad dalam pidatonya pekan ini.

Dia sebaiknya mengatakan bahwa Assad bisa tetap berkuasa di pemerintahan transisi Suriah saat berbicara di pertemuan Majelis Umum PBB.

Sebelumnya, Cameron bersama Presiden AS Barack Obama dan Presiden Prancis Francois Hollande menuntut agar Presiden Assad dicopot dari kursi kepresidenan sebagai bagaian dari kesepakatan damai. Namun, hal tersebut ditolak oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.

"Bashar al-Assad tidak bisa menjadi bagian dari masa depan Suriah. Dia telah membantai rakyatnya sendiri. Dia telah menciptakan konflik ini dan krisis migrasi," ungkap Cameron saat tiba di New York, seperti dilansir BBC.com, Senin (28/9/2015).

Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani yang merupakan sekutu utama Presiden Assad juga berbicara di Majelis Umum PBB di New York. Dia mengatakan pihaknya tidak akan melemah jika mesti mengalahkan militan ISIS.

Selain itu, Irak juga mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian keamanan dan kerjasama intelijen dengan Rusia, Iran dan Suriah untuk membantu memerangi ISIS pada Minggu (27/9).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

suriah krisis timur tengah

Sumber : BBC.com

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top