CRANE JATUH DI MASJIDIL HARAM: 2 Jamaah Haji Indonesia Dikabarkan Kritis

CRANE JATUH DI MASJIDIL HARAM: 2 Jamaah Haji Indonesia Dikabarkan Kritis
Sutan Eries Adlin | 12 September 2015 00:24 WIB
Pelaksanaan ibadah haji - Jibiphoto

Kabar24.com, JAKARTA – Sebuah crane terjatuh di kompleks Masjidil Haram, Mekkah, Jumat  11 September malam waktu setempat atau sekitar pukul 22 malam Waktu Indonesia bagian Barat.

Korban meninggal akibat kejadian disebut-sebut sudah mencapai 62 orang. Dalam laporan Metro TV, disebutkan dua jamaah haji asal Medan dilaporkan kritis akibat tertimpa alat proyek berat itu.

Menurut Anwar, jamaah haji di dekat lokasi kejadian yang diwawancarai Metro TV, kondisi kedua orang itu disebut-sebut dalam  kondisi kritis.

Sementara itu, menurut laporan TV One yang mewawancarai salah seorang jamaah haji asal Indonesia, Aljazuli, kejadian tersebut diawali hujan dan angin kencang yang disusul dengan suara dentuman keras seperti suara petir.

Akibat kejadian tersebut, menurut Aljazuli, jamaah yang berada di kompleks Masjidil Haram berhamburan lari  menyelematkan diri.

Aljazuli menuturkan beberapa jamaah tergelatak namun dia tidak mengetahui secara pasti apakah korban hanya pingsan atau meninggal. Yang lebih mengenaskan, Aljazuli sekilas melihat ada bagian anggota tubuh jamaah haji yang terputus.

Sebelumnya, hujan deras dengan butir-butir kecil es disertai angin kencang dan suara gemuruh melanda Kota Suci Mekkah Al Mukarammah, Jumat sore, sejak pukul 17.10 Waktu Arab Saudi atau pukul 21.10 WIB.

Tidak hanya butiran es dan angin kencang, hujan besar tersebut juga membawa debu yang membuat meja kerja di Kantor Misi Haji Indonesia di Makkah menjadi kotor.

"Kejadian seperti ini jarang terjadi selama ini," kata Syaiful, mukimin warganegara Indonesia yang sudah 12 tahun tinggal di Makkah bersama keluarganya seperti dilansir Antara.

Hal senada dikemukan Ahmad Abdullah Yunus, Kepala Seksi Katering Daker Mekkah, yang pernah tinggal di Jeddah. "Biasanya orang Arab khawatir kalau turun hujan," katanya.

Hujan yang jarang terjadi di Arab Saudi, membuat negeri itu tidak siap mengantisipasi air yang turun deras dari langit. Tahun 2010 Makkah dan Jeddah pernah dilanda banjir yang menimbulkan korban jiwa.

Sampai berita ini ditulis, hujan masih turun deras dengan gemuruh yang terus menggelegar disertai angin kencang

Hujan deras disertai angin kencang, kilat, dan gemuruh yang menggelegar selama sekitar 1 jam yang melanda Mekkah telah menyebabkan banyak pohon tumbang di jalan dan kaca lobby hotel pecah.

"Kaca lobby hotel pemondokan nomor 625 pecah berkeping-keping," kata Puadi, salah satu petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 1436H/2015M sambil memperlihatkan video yang suasana di lobby tersebut.

Beruntung tidak ada korban jiwa dari kejadian tersebut, katanya.

Selain itu, hujan deras dan angin kencang juga menyebabkan sejumlah pohon tumbang ke jalan. Hal tersebut dilaporkan reporter dan kameramen TVOne Angga dan Cholid kepada tim Media Center Haji (MCH) yang berada di kantor Daker Makkah di Syisyah.

"Sepanjang sembilan bulan terakhir ini baru kali ini Makkah dilanda hujan yang besar disertai angin kencang," kata Hesham, warganegara Indonesia yang lahir dan besar di Makkah, Arab Saudi.

Hesham yang menjadi tenaga musiman (temus) pada PPIH tahun ini mengatakan dalam setahun biasanya hanya sekali bahkan sering tidak sama sekali hujan turun di Makkah.

"Hujan deras disertai butiran es dan angin kencang kali ini luar biasa," katanya. Beruntung, lanjut dia, hujan hanya berlangsung satu jam.

"Kalau hujan turun 2-3 jam biasanya banjir cukup besar seperti kejadian tahun 2007 dan 2010, karena Makkah daerah pegunungan (batu) dan tempat yang rendah seperti Masjidil Haram pernah terkena banjir," katanya.

Kendati demikian, Pemerintah Arab Saudi, kata dia, sangat cepat menangani masalah tersebut. Banjir dan jalanan yang kotor akibat hujan deras, biasanya cepat kembali bersih.

"Bahkan kalau ada mobil yang rusak karena banjir, pemerintah memberi ganti rugi," kata Aping Aneng, pemukim yang menjadi temus PPIH, menambahkan.

Oleh karena itu, kata dia, terowongan yang biasanya ditutup. Terowongan merupakan dataran terendah dan berada dibawah gunung batu, sehingga merupakan potensi banjir dan genangan air yang seringkali mobil terjebak di sana. (Antara/Bisnis.com)

Tag : Ibadah Haji
Editor : Sutan Eries Adlin

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top