Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Program Kemitraan Tembakau Rembang Tekan 30% Lahan Tidur

Pertanian tembakau Rembang kini didominasi sistem kemitraan, meskipun sebagian petani memilih penanaman dan pemasaran mandiri.
Pamuji Tri Nastiti
Pamuji Tri Nastiti - Bisnis.com 23 Agustus 2015  |  08:48 WIB
Program Kemitraan Tembakau Rembang Tekan 30% Lahan Tidur
Petani di Desa Selopuro Kecamatan Lasem, Rembang, mendapatkan pendampingan dan edukasi bercocok anam tembakau selama proses kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa. - Pamuji Tri Nastiti
Bagikan

Bisnis.com, REMBANG—Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Susilo Hadi mengatakan pertanian tembakau Rembang kini didominasi sistem kemitraan, meskipun sebagian petani memilih penanaman dan pemasaran mandiri. 

“Masih ada petani tembakau mandiri, tetapi lebih banyak yang kemitraan yang mendorong pemanfaatan lahan kering dan kosong. Program tersebut setidaknya mengurangi lahan tidur hingga 30%,” katanya, Sabtu (23/8/2015).

Data pemda mencatat pertanian tembakau Rembang menyebar di 102 desa di 11 kecamatan berdampingan dengan pertanian tanaman pangan dan palawija yang ditanam baik di wilayah lereng perbukitan batu putih hingga mendekati daerah laut.

Winarso, petani kemitraan di Desa Selopuro Kecamatan Lasem, mengatakan kemitraan pertanian tembakau mendorong warga tani lebih berdaya secara ekonomi karena mampu memanfaatkan lahan kritis menjelang musim kemarau.

Program kemitraan pertanian tembakau wilayah Rembang dimulai pada 2011 diinisiasi AMTI denga mengusung sistem produksi terintegrasi tembakau bekerja sama dengan PT Sadhana Arifnusa selaku pemasok daun tembakau PT HM Sampoerna Tbk. 

“Menjadi mitra Sadhana menguntungkan karena setelah musim tanam padi maka yang tadinya lahan kosong jadi ditanami tembakau dan ada hasilnya. Sebelum menerapkan sistem pertanian ini, tak ada tanaman karena bulan kemarau tanah kritis kering,” ungkapnya.

Menurutnya, pascapanen padi lahan kering bisa juga dimanfaatkan untuk pertanian palawija, “Bedanya kalau tanam padi atau palawija hasilnya untung-untungan, kalau ada hujan hasilnya baik kalau tidak hujan ya puso. Selama ditanami tembakau tidak perna gagal.”

Suharto, pengelola kemitraan PT Sadhana Arifnusa Rembang, mengatakan budi daya tanaman tembakau terintegrasi memungkinkan optimalisasi lahan dan produksi yang didukung implementasi teknik pertanian dan efisiensi produksi.

"Produktivitas dan akses pasar akan selalu dipantau dan semua hasilnya terserap sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan."

Sebagai informasi, harga kemitraan tembakau kering antara Rp20.000/kg-Rp30.000/kg. Produksi tembakau mencapai 1,7-2 ton/ha dengan biaya produksi Rp25-Rp30 juta/ha dan total penjualan sekitar Rp60juta-Rp70 juta/ha dalam sekali masa panen.

Penanaman tembakau yang memanfaatkan lahan kering dilakukan pascapanen padi dimulai Maret-April pada musim kering, dengan estimasi panen pada Oktober. Didukung teknik pertanian modern, panen daun tembakau bisa dilakukan lima hingga tujuh kali. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tembakau
Editor : News Editor
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top