Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sumber Mata Air di Batu Tinggal 50%

Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) mensinyalir pada satu dekade terakhir kawasan hulu Sungai Brantas mengalami ekologi kritis.
M. Sofi’I
M. Sofi’I - Bisnis.com 20 Januari 2015  |  19:34 WIB
Sumber Mata Air di Batu Tinggal 50%
Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) mensinyalir pada satu dekade terakhir kawasan hulu Sungai Brantas mengalami ekologi kritis. - Antara
Bagikan
Bisnis.com, BATU - Dewan Daerah Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (Walhi Jatim) mensinyalir pada satu dekade terakhir  kawasan hulu Sungai Brantas mengalami ekologi kritis.
 
Purnawan Dwikora Negara, Dewan Daerah Walhi Jatim, mengatakan dalam satu dekade terakhir hampir 50% sumber mata air di daerah kaki Gunung Arjuna tersebut telah mati. “Sepuluh tahun lalu jumlah sumber mata air di hulu sebanyak 421 mata air dan tersebar di Kota Batu, Mojokerto dan Pasuruan,” kata Purnawan, Selasa (20/1/2015).
 
Dari jumlah itu 111 sumber mata air diantaranya berada di Kota Batu. Namun saat ini separuh diantara sumber tersebut telah mati. Matinya sumber mata air tersebut disebabkan sejumlah faktor utamanya kerusakan kawasan karena alih fungsi lahan.
 
Serta akibat kawasan konservasi yang telah berubah menjadi kawasan terbangun seperti pembangunan The Rayja Batu Cottage yang dibangun berdekatan dengan sumber mata air Gemulo di Bulukerto Kecamatan Bumiaji Kota Batu.
 
“Untuk mencegah kerusakan lebih parah Pemerintah Kota Batu kami harapkan melakukan penataan kawasan. Terutama mempertahankan kawasan lindung atau konservasi atau menambah kawasan lindung dengan cara membebaskan lahan untuk digunakan kepentingan konservasi mempertahankan sumber air,” jelas dia.
 
Selain itu Pemkot Batu juga harus mendata dan menganalisis penyebab matinya sumber mata air. Selanjutnya dilakukan usaha untuk mengembalikan sumber mata air kembali mengalir.
 
Karena selama ini masyarakat setempat menggantungkan hidupnya untuk air minum dan mengaliri areal perkebunan buah, bunga dan sayuran di Batu. Sungai Brantas sendiri mengalir sepanjang 320 km dan melintasi 14 kota dan kabupaten di Jatim.
 
“Air Sungai Brantas menghidupi warga Jatim dimanfaatkan untuk bahan baku air minum, irigasi, memenuhi bahan baku industri dan pembangkit listrik,” ujarnya.
 
Menurutnya pembangunan The Rayja Batu Cottage telah berdampak terhadap kelestarian sumber mata  air di Gemulo. Sumber yang berjarak sekitar 200 meter dari lokasi pembangunan hotel debitnya mulai mengecil. Para petani harus bergantian mengaliri  sawah.
 
Imam Gunadi, petani mawar di Bulukerto Kecamatan Bumiaji Kota Batu, mengatakan petani membutuhkan air yang cukup untuk tanamannya. Jika pasokan air terlambat bakal menganggu pertumbuhan tanaman dan bunga. “Bunga mawar tidak bisa berkembang dengan baik jika kesulitan air maupun  mengendalikan hama dan penyakit,”  tambah dia.
 
 
 

Your message has been sen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

walhi
Editor : Martin Sihombing
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top