MALAM TAHUN BARU: Ribuan Pendaki Bertahun Baru di Puncak Semeru

Tahun baru, ribuan pendaki memadati gunung Semeru. Tingginya animo para pendaki tersebut membuat Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) membatasi jumlah pendaki maksimal 1.000 orang per hari.
M. Sofi’I | 02 Januari 2015 00:13 WIB

Kabar24.com, MALANG-Tahun baru, ribuan pendaki memadati gunung Semeru. Tingginya animo para pendaki tersebut membuat Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) membatasi jumlah pendaki maksimal 1.000 orang per hari.

Kepala BB-TNBTS, Ayu Dewi Utari, mengatakan para pendaki gunung Semeru mulai berdatangan sejak Senin dan Selasa (29-30/12/2014) ke pos Ranu Pani di kabupaten Lumajang, Jawa Timur. “Mereka telah bersiap memperingati pergantian tahun di gunung Semeru,” kata Ayu, Kamis (1/1/2015).

Selain membatasi jumlah pendaki, BB-TNBTS juga membatasi pendaki maksimal hanya sampai Kali Mati dan dilarang mendaki hingga puncak gunung tertinggi di pulau Jawa tersebut. Menurutnya para pendaki sudah jauh-jauh hari telah mendaftar ke BB-TN BTS baik secara online maupun langsung melalui pos Ranu Pani di Senduro kabupaten Lumajang.

Petugas juga mengingatkan kepada para pendaki agar tetap waspada dan berhati-hati karena sejumlah titik yang menjadi jalur pendakian rawan trehadap terjadinya tanah longsor dan pohon tumbang. “Potensi bencana terjadi mulai awal musim penghujan. Kami meminta kepada para pendaki untuk tidak memaksa mendaki ke puncak atau kawah Jonggring Saloka,” jelas dia.

Pasalnya aktivitas vulkanik gunung Semeru juga meningkat dan berbahaya bagi pendaki. Sesuai rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, aktivitas vulkanik Semeru relatif tinggi sehingga pendaki dibatasi maksimal hanya sampai di kawasan Kali Mati.

Terkait pengamanan pada malam pergantian tahun BB-TNBTS melibatkan relawan dari mahasiswa pecinta alam, tim search and rescue (SAR) dan potensi SAR di sekitar Lumajang serta Palang Merah Indonesia (PMI) Lumajang. “Usai malam pergantian tahun, kami menjadwalkan menutup sementara jalur pendakian mulai Januari 2015,” ujarnya. Penutupan dilakukan secara rutin setiap tahun guna pemulihan ekosistem kawasan.

Selain itu, diperkirakan awal tahun terjadi awal musim penghujan yang dikhawatirkan terjadi cuaca ekstrem yang membahayakan bagi pendakian. Alasan lainnya penutupan dilakukan untuk memperbaiki jalur dan papan petunjuk pendakian.

Apalagi sepanjang jalur pendakian rawan pohon tumbang dan tanah longsor yang membahayakan pendaki. “Pohon tumbang bisa terjadi secara tiba-tiba. Sedikitnya empat titik rawan pohon tumbang berada di jalur pendakian, terutama di kawasan sekitar wilayah Lumajang,” tambah dia.

Setelah penutupan jalur, relawan, pecinta alam dan petugas BB-TNBTS akan melakukan pembersihan kawasan. Mereka menurunkan sampah yang berserakan di sepanjang jalur. Sampah tersebut dihasilkan para pendaki yang mendaki ke kawasan Semeru. Sebagian besar diantaranya adalah sampah plastik bekas bungkus makanan dan minuman.

Tag : gunung
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top