PENGAKUAN WARTAWAN AS: Sejatinya Prabowo Sangat Dekat dengan AS

Wartawan investigatif asal Amerika Serikat (AS), Allan Nairn menyatakan Prabowo Subianto merupakan orang yang sangat dekat dengan intelijen maupun korporasi besar Negeri Paman Sam hingga negara itu akan menjadi mitra istimewa jika dirinya menjadi presiden kelak.
Anugerah Perkasa | 02 Juli 2014 10:21 WIB
/Gerindra

Bisnis.com, JAKARTA - Wartawan investigatif asal Amerika Serikat (AS), Allan Nairn menyatakan Prabowo Subianto merupakan orang yang sangat dekat dengan intelijen maupun korporasi besar Negeri Paman Sam hingga negara itu akan menjadi mitra istimewa jika terpilih sebagai Presiden RI 2014-2019.

Dalam satu diskusi terbatas di Jakarta, Selasa malam (1/7/2014), Naim menjelaskan Prabowo maupun keluarganya, terutama sang ayah Soemitro Djojohadikoesoemo, berhubungan dekat dengan kepentingan bisnis dan pemerintah AS sejak 1960-an.

Soemitro adalah orang yang dinilai membuka hubungan antara Indonesia-AS sehingga investasi skala besar masuk ke Indonesia. Salah satunya adalah perusahaan tambang raksasa Freeport McMoRan yang berada di Papua pada 1960-an..

Ketika wawancara Nairn ke Prabowo pada 2001, kandidat presiden itu mengatakan bahwa dirinya merupakan kesayangan pemerintah AS. "Saya merupakan anak kesayangan Amerika Serikat," kata Nairn, meniru ucapan Prabowo kala itu.

Dalam wawancara tersebut, Prabowo mengakui bahwa dirinya merupakan 'teman sangat baik' dengan the US Defense Intelligence Agency (DIA) terutama dengan Kolonel George Benson. Benson adalah orang yang bekerja dengan elemen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam operasi CIA untuk mengusir Presiden Soekarno pada 1960-an.

Pada 1994, Benson dengan lingkaran keluarga Prabowo, bisnis besar dari AS, tokoh diplomatik dan intelijen membuat USINDO, yang salah satunya bertugas untuk mempertahankan bisnis negara itu di Indonesia. Benson meninggal pada 16 Desember 2007 di Washington DC. Tak hanya itu, pemerintah AS juga mendukung Prabowo dahulu dengan sponsor, senjata dan tujuan publik.

Nairn mengatakan salah satu data lainnya mengenai kedekatan Prabowo dengan intelijen  adalah dengan melaporkan segala kegiatan sekitar seminggu atau lebih kepada intelijen AS, menjadi penyampai pesan AS kepada Soeharto, bahkan membantu pasukan AS datang ke Indonesia untuk pelatihan. "Prabowo adalah orang yang paling dekat dengan intelijen AS," katanya.

Sedangkan adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo menegaskan kakaknya merupakan pendukung AS dan akan menguntungkan bisnis negara tersebut, jika terpilih sebagai presiden. Pidato itu disampaikan Hashim pada 17 Juli 2013 di Washington DC, di depan kalangan pemerintah dan pemimpin bisnis AS.

"Prabowo sangat pro-Amerika. Dia bersekolah di sekolah-sekolah Amerika. Maksud saya, Anda tahu, dia pergi  ke sekolah-sekolah Amerika, sepanjang hidupnya," kata Hashim. "Dia juga ke pasukan khusus, dia dahulu di Fort Benning, Fort Bragg. Anda tahu, saya pro-Amerika, sampai baru-baru ini saya adalah investor di California, dalam bisnis minyak."

Hashim, papar Nairn, juga menyatakan dalam pidatonya bahwa  AS akan menjadi mitra yang istimewa jika Prabowo terpilih dalam Pemilu Presiden. "Ya, AS akan menjadi mitra istimewa dalam pemerintahan Gerindra."

Bisnis.com mengkonfirmasi Juru Bicara Tim Pemenangan, Tantowi Yahya, namun yang bersangkutan tak menjawab telepon dan mengirimkan pesan bahwa tengah melakukan rapat. Anggota tim pemenangan lainnya, Idrus Marham pun tak menjawab telepon untuk konfirmasi masalah tersebut.

Koordinator Media Center Sekretariat Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Budi Purnomo Karjodihardjo mengatakan sebelumnya bahwa pernyataan Nairn merupakan kampanye hitam yang terkoordinasi. Dalam pernyataan yang dilansir media tersebut, dia mengungkapkan koordinasi itu dilakukan oleh sekelompok jurnalis asing yang tak menghendaki Prabowo menjadi presiden.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
prabowo subianto, Pemilu Presiden 2014

Editor : Yusran Yunus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top