Batam Bangun 5 Fasilitas Listrik di Tanjung Uncang

Kota Batam membangun lima fasilitas kelistrikan melalui PT Bright PLN Batam bekerjasama dengan perusahaan swasta lainnya sebagai salah satu upaya mengimbangi kebutuhan listrik yang tumbuh rerata13,5% per tahun di kota itu.
Yoseph Pencawan | 02 Maret 2014 12:25 WIB
Pendistribusian listrik di Batam - Bisnis

Bisnis.com, BATAM--Kota Batam membangun lima fasilitas kelistrikan melalui PT Bright PLN Batam bekerjasama dengan perusahaan swasta lainnya sebagai salah satu upaya mengimbangi kebutuhan listrik yang tumbuh rerata13,5% per tahun di kota itu.

Pembangun ditandai dengan Soft Launching lima proyek pembangunan infrastruktur ketenaga listrikan yang dilakukan oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Susilo Siswoutomo, Sabtu (1/3/2014).

Kelima proyek yang seluruhnya berlokasi di kawasan Tanjung Uncang tersebut antara lain pembangunan Pipa Gas Ruas 2 Pemping-Tanjung Uncang, PLTG Tanjung Uncang, PLTGU Tanjung Uncang, Gardu Induk Tanjung Uncang dan Transmisi 150 kV Sagulung-Tanjung Uncang.

Proyek Pipa Gas Ruas 2 Pemping-Tanjung Uncang adalah milik konsorsium PT PLN Batam dan PT Universal Batam Energi yang dibangun oleh empat kontraktor dengan biaya US$49,89 Juta. Keempatnya yakni PT Batam Trans Gasindo, PT PT Hafardaya Konstruksi, PT Prosys Bangun Persada dan PT KPM Oil and Gas.

PLTG Tanjung Uncang dibangun oleh PT Energy Listrik Batam, berkapasitas 2x35 MW senilai US$66 juta dan PLTGU Tanjung Uncang milik PT PLN Batam berkapasitas 2x42,5 MW. PLTGU ini akan menggunakan bahan bakar gas alam sekitar 18 bbtud atau setara dengan 550 kilo liter per hari. Sedangkan kebutuhan gas PLTGU yang memakan biaya pembangunan Rp1,1 triliun ini akan dipasok melalui Pipa Gas Ruas 2 Pemping-Tanjung Uncang.

Adapun Gardu Induk Tanjung Uncang akan mengakomodasi 150/20 KV aliran listrik PT PLN Batam di daerah sekitarnya. Dan terakhir, Transmisi Sagulung-Tanjung Uncang akan mengaliri listrik berdaya 150 KV dari daerah Tanjung Uncang ke Sagulung. Transmisi sepanjang 6 km ini dilakukan dengan pemasangan tower steel monopole sebanyak 35 tower. Keduanya memakan biaya Rp66 miliar.

Menurut Dadan Kurniadipura, kelima proyek tersebut merupakan rencana strategis PT PLN Batam untuk menambah komposisi pembangkit milik sendiri. Hal itu agar anak perusahaan milik PT PLN (persero) itu mampu memberikan kepastian ketersediaan dan keberlangsungan pasokan listrik di Batam, khususnya dengan memanfaatkan pasokan energi primer gas dari Natuna.

"Kebutuhan listrik di Batam dan sekitarnya terus meningkat setiap tahun, termasuk untuk pertumbuhan ekonomi, bisnis dan industri sehingga semakin menarik bagi para investor,"

Dadan mengatakan, Selain proyek-proyek ini pihaknya juga telah berencana membangun sejumlah proyek pembangkit untuk mengimbangi kebutuhan listrik di kota ini yang dalam satu dekade terakhir meningkat rata-rata 13,5% per tahun.

"Namun sampai saat ini masih terkendala dengan ketersediaan lahan," ujarnya. Karena itu dia meminta kepada kepala daerah untuk mendukung kemudahan proses pengadaan lahan agar proyek-proyek pembangkitnya dapat segera direalisasikan.

Selain soal lahan, Dadan juga menyinggung masalah pasokan gas untuk kedua pembangkit gas di atas. Menurut dia, keduanya merupakan bagian dari perencanaan anak perusahaan PLN (persero) itu guna mencukupi kebutuhan listrik di Batam untuk 10 tahun ke depan. Namun demikian, lanjutnya, pengoperasiannya akan sangat ditentukan oleh kepastian pasokan gas.

"Hal-hal di luar kendali PLN Batam, kami membutuhkan dukungan semua pihak diantaranya terkait dengan kepastian gas," katanya. Tanpa kepastian gas, tegas Dadan, proyek-proyek tersebut tidak dapat dioperasikan meskipun fisiknya sudah selesai 100%.

Sementara itu, Wamen ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan pemerintah daerah harus mempermudah proses perizinan lahan yang masih menghambat rencana pembangunan pembangkit oleh PT Bright PLN Batam.

Tag : batam
Editor : Ismail Fahmi

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top