Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

24 Jenis Psikotropika Baru Belum Masuk UU Narkotika

Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan saat ini ada 24 jenis psikotropika baru yang beredar di Indonesia, tetapi belum masuk daftar lampiran di Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Sepudin Zuhri
Sepudin Zuhri - Bisnis.com 01 Desember 2013  |  07:35 WIB
/Bisnis.com
/Bisnis.com

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan saat ini ada 24 jenis psikotropika baru yang beredar di Indonesia, tetapi belum masuk daftar lampiran di Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Dari 24 jenis psikotropika baru tersebut ada tujuh kelompok yang paling baru. Ketujuh kelompok itu di antaranya Catimon Sintesis, Canabion Sintetis, Iperesin, dan Plan Base," kata Kepala Humas Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) DIY Sumirat, Minggu (1/12/2013).

Menurutnya, karena psikotropika terbaru itu belum masuk dalam undang-undang, maka besar kesempatan bagi jaringan kejahatan narkoba mengedarkannya lebih luas di wilayah Indonesia.

"Kami sangat mewaspadai ini, apalagi jika dilihat dalam daftar lampiran tidak ada, sehingga ini berpeluang dipakai untuk celah," katanya.

Ketua Biro Hubungan Antar Lembaga DPD Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) DIY Hendra Putra mendesak agar sosialisasi keberadaan 24 jenis psikotropika baru, dan zat berbahaya lebih diintensifkan.

"Saat ini pemahaman warga terkait dengan keberadaan psikotropika dan zat berbahaya masih minim," katanya.

Dia mengatakan masyarakat selama ini hanya tahu jenis narkoba yang selama ini telah banyak dikenal seperti sabu, ekstasi, putau, ganja, dan yang lainnya.

"Padahal yang masuk jenis narkoba cukup banyak, terutama untuk psikotropika yang memiliki banyak sekali jenis," katanya. (Antara)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

narkotika
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top