Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Skandal Suap Diebold, BNI Bantah Terlibat

Bank Negara Indonesia membantah terlibat dalam skandal suap senilai US$147.000 yang diberikan oleh produsen ATM Diebold Indonesia pada periode 2005—2010.
Donald Banjarnahor
Donald Banjarnahor - Bisnis.com 24 Oktober 2013  |  14:44 WIB
Skandal Suap Diebold, BNI Bantah Terlibat
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Negara Indonesia membantah terlibat dalam skandal suap senilai US$147.000 yang diberikan oleh produsen ATM Diebold Indonesia pada periode 2005—2010.

Felia Salim, Wakil Direktur Utama BNI, mengatakan perseroan tidak pernah menerima undangan maupun mengirimkan pegawainya ke acara yang digelar Diebold.

“Kami tidak pernah mengizinkan pegawai untuk pergi melihat kepada vendor manapun. Kalau mau melihat pabrik harus dengan biaya sendiri,” ujarnya Kamis (24/10/2013).

Dia menegaskan  bahwa kebijakan perseroan melarang pegawai untuk menerima pemberian dari vendor, termasuk loyalty program. “Kecuali training yang sudah masuk paket kontrak. Itu urusan lain,” jelasnya.

Untuk mengklarifikasi berita yang beredar selama ini, BNI juga berencana untuk mengirimkan surat kepada Securities and Exchange Commision AS. “Kami akan menyangkal dan meminta mereka mengoreksi pernyataannya,” tegasnya.

Sejumlah pejabat dari tiga bank milik pemerintah diduga menerima suap senilai US$147.000 dari Diebold Indonesia terkait dengan pengadaan mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Suap tersebut diberikan dalam bentuk perjalanan wisata dan hiburan pada periode 2005—2010.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bni syariah DIEBOLD skandal diebold
Editor : Bambang Supriyanto
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top