Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Target Pertumbuhan China Kembali Terancam

Bisnis.com, BEIJING — Sesuai dengan prediksi banyak analis, perekonomian China benar-benar mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut pada tahun ini, sebagai dampak dari merosotnya produksi pabrik dan melemahnya investasi aset tetap.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 15 Juli 2013  |  16:33 WIB

Bisnis.com, BEIJING — Sesuai dengan prediksi banyak analis, perekonomian China benar-benar mengalami perlambatan selama dua kuartal berturut-turut pada tahun ini, sebagai dampak dari merosotnya produksi pabrik dan melemahnya investasi aset tetap.

Biro Statistik Nasional China mengungkapkan pada Senin (15/7/2013) produk domestik bruto (PDB) raksasa Asia Timur itu meningkat level 7,5% pada April-Juni dari tahun sebelumnya. Angka tersebut turun dari level 7,7% pada kuartal I/2013.

Penurunan itu sesuai dengan prediksi para ekonom dan menambah keyakinan bahwa pemerintah akan gagal mencapai target pertumbuhan pada saat Perdana Menteri Li Keqiang berjuang untuk mengendalikan pertumbuhan utang. Sementara itu, laju pertumbuhan produksi China mencapai titik paling lambat sejak era resesi global pada 2009.

Perlambatan pertumbuhan China pada kuartal II/2013 dapat memantik spekulasi bahwa para pembuat kebijakan akan bertindak untuk menyelamatkan target pertumbuhan tahun ini sebesar 7,5%, bahkan ketika Li mengisyaratkan keengganan untuk mengucurkan stimulus dan mengurangi risiko keuangan.

Pemerintahan Li juga tengah menghadapi tantangan untuk dapat beralih dari sektor ekspor sebagai tumpuan pertumbuhan ekonomi, apalagi setelah International Monetary Fund (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan global pada awal bulan ini.

“Pemerintahan [China] yang baru di bawah kepemimpinan Li seharusnya mengkahawatirkan prospek apakah mereka dapat mencapai target pertumbuhan atau tidak,”  tutur Liu Li-Gang, Kepala Ekonom China Daratan di Australia & New Zealand Banking Group yang berbasis di Hong Kong.

Menurut Liu, pertumbuhan China seharusnya stabil pada kuartal ini dan dapat mengalami rebound dalam periode selanjutnya jika kebijakan moneter dapat menyesuaikan dengan drastisnya perubahan lingkungan domestik dan eksternal, serta jika kebijakan fiskal dapat lebih aktif dalam menargetkan proyek investasi efektif dan pengembangan teknologi. Jika tidak, lanjutnya, trayek pertumbuhan terancam bergerak di bawah level 7%.

Sementara itu, Zhou Hao, ekonom ANZ Bank yang berbasis di Shanghai menambahkan angka pertumbuhan China pada kuartal ini tidaklah mengejutkan, dan justru menambah pertanda akan adanya tekanan ke bawah dalam perekonomian China.

Di lain pihak, kekhawatiran terbesar bagi para pemimpin China adalah jika perlambatan ekonomi berujung pada tingginya angka pengangguran yang dapat mengakibatkan gejolak sosial. Sejauh ini, para pejabat pemerintah masih memastikan angka bekerja di China cukup stabil.

Untuk saat ini, para ekonom tidak melihat adanya pergeseran stimulus ataupun kebijakan yang berarti di China. Mereka justru mengharapkan pemerintah lebih sigap dalam mengatasi perlambatan karena pemerintah menargetkan visi jangka panjang untuk mereformasi perekonomian menjadi pertumbuhan yang berbasis konsumen ketimbang berbasis ekspor dan investasi.

Beijing juga masih berjuang untuk membersihkan utang pemerintah lokal sebesar triliunan dolar yang tersisa dari anggaran belanja pada era krisis finansial global 2008/2009. Pemerintah juga terus berupaya mengendalikan pinjaman di luar neraca keuangan.

“Fokus untuk saat ini masih berkutat pada masalah reformasi. Terdapat peluang yang kecil akan terjadinya pemangkasan suku bungan atau rasio cadangan bank,” ujar Xu Hongcai, Ekonom Senior China Centre for International Economic Exchanges.

Dia menambahkan ketika perekonomian China masih bagus, pemerintah lokal menggantungkan tangan mereka pada  uang dari pemerintah pusat. Saat ini, lanjutnya, pemerintah lokal harus menyesuaikan diri dengan reformasi, yang mana uang dari pemerintah pusat tidak akan lagi diberikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pm china ekspor china perekonomian china

Sumber : Bloomberg/Reuters

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top