PERDAGANGAN GLOBAL: Arus ekspor impor cenderung meningkat

JAKARTA: Arus barang ekspor-impor secara global cenderung terus meningkat, membutuhkan kelancaran logistik dan mata rantai distibusi yang handal didukung kesiapan pelabuhan yang dapat memberikan pelayanan terbaik dan efisien.Mata rantai distribusi (supply
Sekretariat Redaksi | 17 April 2012 13:57 WIB

JAKARTA: Arus barang ekspor-impor secara global cenderung terus meningkat, membutuhkan kelancaran logistik dan mata rantai distibusi yang handal didukung kesiapan pelabuhan yang dapat memberikan pelayanan terbaik dan efisien.Mata rantai distribusi (supply chain) menjadi alternatif untuk menjamin kelancaran arus barang dengan efisiensi waktu dan biaya logistiknya, sejak dari negara asal ke negara tujuan, baik bahan baku untuk diproduksi dan dikembali ke negara asalnya atau barang jadi untuk dipasarkan.Fenomena tersebut kini berkembang di kawasan Brazil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan. Bahakan dengan adanya kesepakatan China-India Free Trade Agreement telah tercipta pasar regional yang sangat besar dengan 2,5 miliar orang dari populasi dua negara tersebut.Untuk itu operator pelabuhan atau terminal sebagai bagian penting dalam supply chain  harus terus meningkatkan kapasitas, diantaranya dengan melakukan perbaikan secara menyeluruh, serta menjalin kerja sama dengan semua stake holder di dalam dan di luar pelabuhan.Karena sejatinya operator pelabuhan tidak bisa terlepas dari peran institusi lain, meliputi perusahan pelayaran, pihak pelaksana bongkar muat, transportasi di darat, pengelola terminal, pergudangan, serta otoritas bea cukai dan karantina.Untuk itu Mark Holloway, Direktur APAC Customer Service and Logistic, menjelaskan pelabuhan yang bermitra secara baik dengan seluruh stake holder, mulai dari perusahaan pelayaran, jasa logistik di darat dan semua institusi, akan semakin kompetitif.Kemitraan yang baik antar stake holder di pelabuhan atau terminal dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan demi kepuasan konsumen itu merupakan salah satu kunci untama untuk pendorong perekonomian di Asia.Mark Holloway dalam presentasinya pada The Terminal Operators Conference (TOC) Container Supply Chain di Hong Kong China, baru-baru ini, mengingatkan tuntutan konsumen kepada pelabuhan akan terus meningkat, baik untuk kelancaran ekspor-impor maupun transshipment.Pada kesempatan yang sama, Sundara S, Regional Director Ocean Freight Asia Pacific Region Agility Logistic, juga mengggaris bawahi pentingnya kerja sama antar pelaku usaha yang terkait dengan kegiatan kepelabuhanan bagi peningkatan kualitas layanan pelabuhan.“Kehandalan pelabuhan menjadi tuntutan konsumen para pebisnis yang menghendaki adanya jaminan setiap kargo atau peti kemas yang dikirim akan sampai ke tempat tujuannya dengan tepat waktu dan biayanya kompetitif,” tegasnya.Bagaimana posisi Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta? Dalam hal ini Tommy Lui, Executive Vice President Hubbing and Freight Solutions Li & Fung, menekankan pentingnya posisi Pelabuhan Tanjung Priok dalam segi tiga emas (golden triangle) negara China, India dan Indonesia.Pertumbuhan ekonomi dan daya beli yang cenderung terus meningkat di China, India dan Indonesia merupakan prospek pasar. Disamping juga banyaknya bahan baku yang masuk untuk diproduksi guna memenuhi pasar lokal atau diekspor kembali.Untuk itu, pengelola pelabuhan di China, India dan Indonesia dapat berkolaborasi dan melakukan upaya peningkatan produktifitas dan efisensi secara menyeluruh sehingga dapat menjamin kelancaran logistik dengan biaya lebih kompetitif.Dari golden triangle itu ternyata China lebih cepat mengantisipasi pertumbuhan pasar lokal, regional dan global dengan langkah yang sistematis mulai dari peningkatan kapasitas dan struktur industri serta penyebaran ubanisasi ke sejumlah wilayah di negaranya.Serta memperbaiki, menyempurnakan dan memutakhirkan sistem distribusi dengan investasi yang cukup besar, termasuk memperbaiki seluruh infrastruktur pendukung dan pemanfaatkan teknologi informasi.Sebab, nantinya akan semakin banyak industri dari Eropa, AS dan kawasan lain memilih China, yang tentunya juga India dan Indonesia sebagai golden triangle, untuk memproduksi barang yang dibutuhkan di dalam negerinya maupun pasar global karena dirasakan lebih efisien.Langkah serupa juga dilakukan Indonesia Port Corporation (IPC), nama baru dari PT Pelabuhan Indonesia II, selaku operator Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, kendatai tidak secepat di China dengan tujuan meningkatkan kualitas pelayanan dan tingkat efisiensi secara maksimal.Adapun strategi yang ditempuh, menurut RJ. Lino, Presdir IPC , dengan menggenjot produktifitasnya melalui strategi soft investment yaitu menambah jam operasi kegiatan pelabuhan menjadi 24 jam dalam 7 hari dengan menambah sejumlah tenaga kerja baru.Kemudian melakukan otimalisasi dan penambahan peralatan di pelabuhan, terutama untuk mengatasi kren atau alat angkut milik kapal yang sudah tua, dan mendorong konsumen memperbesar ukuran kemasan, serta pemanfaatan teknologi infomasi secara tepat guna. (ra)

 

BACA JUGA

 

Menkeu minta setiap proyek diperjelas pelaksanaannya

 

Tag :
Editor : Basilius Triharyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top