Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Di Sidang MK, Faisal Basri Soroti Impor Beras Jelang Pilpres 2024

Ekonom senior Faisal Basri menyoroti kebijakan pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial (bansos) BLT El Nino tahun 2023.
Suasana sidang perdana perselisihan hasil Pilpres 2024 dengan pemohon calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (27/3/2024). Sidang tersebut beragenda pemeriksaan pendahuluan dengan penyampaian permohonan dari pemohon. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Suasana sidang perdana perselisihan hasil Pilpres 2024 dengan pemohon calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (27/3/2024). Sidang tersebut beragenda pemeriksaan pendahuluan dengan penyampaian permohonan dari pemohon. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom senior Faisal Basri menyoroti kebijakan pemerintah dalam mengimpor beras sebanyak 3 juta ton menjelang momentum Pilpres 2024 lalu.

Hal tersebut disampaikannya sebagai ahli yang dihadirkan kubu paslon 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dalam lanjutan sidang perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilpres 2024.

Mulanya, Faisal menyinggung kebijakan pemerintah dalam menyalurkan bantuan sosial (bansos) BLT El Nino tahun 2023. Padahal, menurutnya, kondisi El Nino pada 2021 lebih parah, tetapi tidak ada penyaluran bansos serupa.

“Jadi nyata bahwa el nino ini kebutuhan untuk meningkatkan suara. Only that dari segi data itu. Ini yang sangat memilukan dan seolah-olah kita semua bodoh,” katanya di Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta Pusat, Senin (1/4/2024).

Menurutnya, di tengah bencana yang terjadi di berbagai daerah, lahan panen beras dalam negeri tetap stabil di atas angka 10 juta hektare.

“Produktivitasnya naik, sehingga produksi beras cuma turun 600.000-an ton. Tapi seolah-olah kita mau kiamat, diimporlah 3 juta ton beras,” tuturnya.

Faisal melanjutkan, apabila 3 juta ton beras impor ini digelontorkan ke pasar, maka tidak mungkin harga beras mencapai yang tertinggi sepanjang sejarah pada Februari lalu.

Dia lantas mempertanyakan tujuan kebijakan impor beras di samping keperluan stabilisasi pangan.

“Apa yang ada di kepala mereka itu, oh, siapa tahu nanti [pilpres] 2 putaran, masih bisa ini ada stok buat bagi-bagi beras sampai putaran kedua. Jadi penuh dengan siasat yang menurut saya sudah keterlaluan, terlalu vulgar,” pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper