Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penelitian Buktikan Penyemprotan Jalan Justru Perparah Polusi Udara

Studi mengungkap bahwa penyemprotan air ke jalan yang dilakukan dalam skala besar justru memperparah polusi udara, alih-alih mengurangi dampaknya.
Kendaraan water canon Brimob Polda Metro Jaya menyemprotkan air di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (23/8/2023). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Polda Metro Jaya melakukan penyemprotan air di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Medan Merdeka Barat, Jakarta, sebagai upaya mengurangi polusi udara dan mengatasi cuaca panas di Ibu Kota. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.
Kendaraan water canon Brimob Polda Metro Jaya menyemprotkan air di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (23/8/2023). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Polda Metro Jaya melakukan penyemprotan air di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman hingga Medan Merdeka Barat, Jakarta, sebagai upaya mengurangi polusi udara dan mengatasi cuaca panas di Ibu Kota. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

Bisnis.com, JAKARTA - Sebuah studi mengungkap bahwa penyemprotan air ke jalan yang dilakukan dalam skala besar justru memperparah polusi udara, alih-alih mengurangi dampaknya.

Hal itu terungkap pada penelitian berjudul “Large-Scale Spraying of Roads with Water Contributes to, Rather Than Prevents, Air Pollution” yang dikutip pada Selasa (29/8/2023).

Penelitian dipublikasi di jurnal Toxics edisi 9 terbitan Multidisciplinary Digital Publishing Institute (MPDI) pada 28 Mei 2021.

Ada sembilan akademisi yang melakukan penelitian itu, yakni dari Hebei Medical University, Monash University, Chinese Academy of Sciences, dan Queensland University of Technology.

Penelitian ini menjabarkan hasil pengamatan dan rangkaian eksperimen tentang dampak penyemprotan jalan dengan air terhadap konsentrasi polutan PM 2.5 dan kelembapan udara di China.

Hal ini didasarkan pada komposisi kimia air, melakukan simulasi eksperimen penyemprotan air, mengukur residu, serta menganalisis data yang relevan.

“Proses penyemprotan, penguapan air, dan residu yang tersisa berkontribusi pada peningkatan tambahan aerosol antropogenik atau PM 2,5 dan kelembapan udara secara keseluruhan,” demikian bunyi hasil penelitian tersebut.

Dijelaskan pula bahwa dari penelitian tersebut, penyemprotan air setiap hari di jalan tidak mengurangi konsentrasi PM 2.5 di udara. Air yang disemprotkan dapat menghasilkan partikel halus yang tidak terlihat, dan dengan demikian menjadi sumber polusi udara baru.

“Itu mendorong kandungan uap dan kelembapan udara yang lebih tinggi, menciptakan kondisi meteorologi yang tidak menguntungkan bagi penyebaran polusi udara baik di musim gugur maupun musim dingin dengan suhu rendah,” demikian dijelaskan dalam kesimpulan penelitian.

Adapun penelitian ini berangkat dari banyaknya kejadian polusi udara di China sejak tahun 2013, seperti wilayah Beijing, Tianjin, dan Hebei yang mengalami kondisi udara parah selama kurang lebih 21 hari pada Januari 2013.

Kondisi yang sama pun masih bisa terulang saat pembatasan kendaraan bermotor dan aktivitas industri di tengah pandemi Covid-19 lalu, tepatnya pada Januari dan Februari 2021.

Pemerintah China diketahui menggunakan metode penyemprotan jalan skala besar sebagai tindakan pencegahan atau mitigasi tambahan dalam mengendalikan kejadian polusi udara dan kabut asap tebal, yang dalam penelitian itu hasilnya disebut “tidak memuaskan”.

Adapun penyemprotan jalan menggunakan water canon dilakukan setelah Menteri Dalam Negeri (Mendagri) RI Tito Karnavian menerbitkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 2 Tahun 2023 tentang Pengendalian Pencemaran Udara di Wilayah Jabodetabek.

Salah satu instruksinya adalah melakukan penyemprotan secara rutin. Polda Metro Jaya menjadi salah satu pihak yang mengaplikasikan kebijakan tersebut.

Pemerintah Wilayah Jakarta Barat sendiri telah mengerahkan 50 kendaraan untuk menyiram Jalan S Parman, Slipi, guna mengurangi polusi udara Jakarta.

Wali Kota Jakarta Barat Uus Kuswanto menyatakan bahwa sebanyak 50 kendaraan tersebut untuk menyiram jalanan itu dibagi menjadi dua tim. Pihaknya berharap penyiraman jalan tersebut dapat menekan polusi udara di Jakarta, khususnya Jakarta Barat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan bahwa penyemprotan jalan yang sempat dilakukan di beberapa titik di DKI Jakarta tidak efektif untuk mengurangi polusi udara.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu menyampaikan bahwa upaya tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan ahli.

"Kalau untuk skala kecil, di industri, itu bisa dilakukan. Kalau untuk skala besar, banyak ahli tidak menyarankan," katanya dalam konferensi pers di Kemenkes RI, Jakarta Selatan, Senin (28/8/2023).

Dia menjelaskan bahwa langkah penyemprotan air tidak efisien, karena ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi seperti tingkat kebersihan dan volume air yang digunakan.

Menurut Maxi, syarat tersebut krusial karena apabila tidak dipenuhi, air justru akan naik ke atas dan tidak berdampak pada kualitas udara.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper