Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Apa Itu Gempa Bumi Megathrust dan Potensi Terjadi di Indonesia

Gempa bumi berkekuatan M5,8 di Sukabumi pada Kamis (8/12/2022) pagi yang dirasakan di Bekasi, dan Jakarta bukan gempa megathrust.
Erta Darwati
Erta Darwati - Bisnis.com 08 Desember 2022  |  19:00 WIB
Apa Itu Gempa Bumi Megathrust dan Potensi Terjadi di Indonesia
Ilustrasi tsunami yang melanda Maluku dan sekitarnya pada 1674. - bnpg.go.id
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Gempa bumi berkekuatan M5,8 di Sukabumi pada Kamis (8/12/2022) pagi yang dirasakan di Bekasi, dan Jakarta bukan gempa megathrust.

"Bukan gempa kerak dangkal Cianjur bukan juga gempa megathrust," cuit Kepala Bidang Mitigasi Gempa dan Tsunami BMKG Daryono melalui akun Twitter pribadinya @daryonoBMKG, Kamis (8/12/2022).

Dikatakan, bahwa gempa bumi di Sukabumi terjadi dalam lempeng Indo-Australia atau gempa benioff.

Seperti diketahui, dalam dua pekan terakhir sejumlah wilayah Indonesia mengalami kejadian gempa bumi dengan magnitudo yang cukup kuat terutama di Pulau Jawa bagian Selatan seperti wilayah Jawa Barat, yakni di Cianjur dan Sukabumi yang baru saja terjadi.

Lalu, apa itu gempa bumi megahthrust?

Melansir dari EOS Sains News, gempa bumi megathrust adalah patahan batas lempeng yang terjadi pada bidang kontak dua lempeng tektonik yang bertemu di zona subduksi.

Akibat adanya gerakan relatif antar lempeng tidak terbendung dan tekanan terkumpul di area dua lempeng, sehingga pelepasanya melalui gempa dahsyat yang disebut megathrust.

Retakan megathrust melibatkan lempeng samudera (lempeng Pasifik) di bawah lempeng di atasnya (Jepang sebagai bagian dari Amerika Utara atau lempeng Okhotsk).

Akibat gerakan lempeng yang tak terbendung, tekanan terjadi antarmuka kedua lempeng menjadi terkunci dan akhirnya menjadi gempa bumi megathrust.

Jawa Barat Bagian Selatan

Wilayah Jawa Barat di bagian Selatan dan Barat Daya Sumatra menyimpan potensi gempa bumi megathrust berdasarkan hasil penelitian  Pepen Supendi dan tim dari BMKG yang berjudul "Natural Hazards" tentang potensi tsunami dari gempa megathrust di selatan Pulau Jawa.

Jurnal penelitian yang telah terbit bulan Oktober lalu, menyebutkan bahwa gempa megathrust dengan magnitudo 8,9 dapat berpotensi tsunami dengan ketinggian gelombang mencapai 34 meter.  

Potensi tsunami ini patut diwaspadai khususnya bagian Selatan Jawa dan Barat Daya Sumatra, dan perkiraan tsunami akan menjalar melalui Selat Sunda memasuki Pantai Utara Jawa dan Tenggara Timur Sumatra.

Pakar Tsunami dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) Widjo Kongko menegaskan, belum diketahui pasti kapan gempa megathrust akan terjadi, namun harus waspada terhadap ancaman tsunami dan upaya mitigasinya perlu lebih serius dan segera dilakukan.

Widjo juga menyebut bahwa dampak yang ditimbulkan akan lebih besar dibandingkan dengan kejadian Tsunami di Aceh. “Oleh karena itu, perlu adanya upaya mitigasi dan peningkatan kewaspadaan dan khususnya sistem peringatan dini dan jalur serta tempat evakuasinya,” jelas Widjo melansir brin.go.id.

Daryono sempat mengingatkan masyarakat bahwa gempa dahsyat di zona megathrust jangan pernah diabaikan.

"Potensi gempa dahsyat di zona megathrust jangan diabaikan karena memang sudah pernah beberapa kali terjadi," katanya.

Beberapa gempa bumi megathrust yang pernah terjadi di Indonesia, yaitu pada 27 Februari 1903 (Magnitudo 8,1), 22 Januari 1780 (Magnitudo 8,5), 17 Juli 2006 (Magnitudo 7,8), 23 Juni 1943 (Magnitudo 8,1), 3 Juni 1859 (Magnitudo 8,5), dan 3 Juni 1994 (Magnitudo 7,7).

Seluruh gempa bumi tersebut terjadi di laut Jawa bagian Selatan mulai dari Banten hingga ke ujung Jawa Timur.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan perkiraan dari para peneliti, yaitu gempa bumi megathrust terjadi setiap 400 tahun.

Gempa bumi terbesar di dunia juga terjadi dalam gempa bumi megathrust. Sumber gempa megathrust biasanya terletak di bawah laut, sehingga sulit untuk melakukan pengamatan terperinci berdasarkan pengukuran seismik, geodesi, dan geologis.

Gempa bumi megathrust juga berpotensi menghasilkan tsunami dahsyat karena pergerakan vertikal dasar laut besar yang terjadi selama gempa.

Selain itu, ada zona megathrust, yakni lapisan batas tipis antara lempeng tektonik yang tenggelam ke dalam mantel bumi dan lempeng utama. Gempa bumi dan tsunami terbesar dihasilkan dari zona megathrust.

Gempa bermagnitudo tinggi megathrust ini pernah terjadi di dunia, di antaranya yaitu Indonesia pada tahun 2004, Chili pada tahun 2010, dan Jepang pada tahun 2011, yang direkam oleh teknologi Global Positioning System (GPS).

Gempa bumi megathrust seringkali disertai dengan tsunami yang merusak disertai goncangan yang kuat, dan memiliki retakan yang sangat berbeda di dekat permukaan bumi daripada di kedalaman laut yang lebih dalam.

Gempa megathrust memiliki tanda yang membingungkan, karena bagian dangkal dari retakan mengathrust menyebabkan tsunami, tetapi bagian yang lebih dalam dari retakan menimbulkan gelombang tinggi yang sangat berbahaya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gempa gempa bumi BMKG tsunami megathrust
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top