Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Update Kasus Gagal Ginjal Akut 6 November: 324 Kasus, 195 Meninggal

Kemenkes melaporkan perkembangan terbaru dari kasus gangguan ginjal akut di Indonesia yakni mencapai 324 kasus hingga Minggu (6/11/2022).
Szalma Fatimarahma
Szalma Fatimarahma - Bisnis.com 07 November 2022  |  16:27 WIB
Update Kasus Gagal Ginjal Akut 6 November: 324 Kasus, 195 Meninggal
Update Kasus Gagal Ginjal Akut 6 November: 324 Kasus, 195 Meninggal. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan 87 persen obat penawar atau antidotum Fomepizole yang digunakan untuk pengobatan gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) adalah donasi dari Australia dan Jepang. - Kemkes.go.id
Bagikan
Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melaporkan perkembangan terbaru dari kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal (GGAPA) di Indonesia. 
 
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menerangkan bahwa kasus gangguan ginjal akut di Indonesia mencapai 324 kasus hingga Minggu (6/11/2022). Jumlah tersebut merupakan laporan kasus yang diidentifikasi di 28 provinsi di Indonesia. 
 
"Masih ada 28 provinsi yang melaporkan dengan jumlah kasus 324 orang. Yang dirawat 27 orang, yang meninggal 195 orang, dan yang sudah sembuh 102 orang" terang Syahril dalam konferensi pers daring, Senin (7/11/2022). 
 
Syahril menyampaikan bahwa peningkatan jumlah kasus yang dicatat oleh Kemenkes tersebut merupakan jumlah kumulatif kasus yang belum dilaporkan oleh sejumlah rumah sakit. 
 
Berdasarkan data yang dirangkum oleh Kemenkes, kasus kematian akibat gangguan ginjal akut mayoritas ditemukan pada anak dengan usia di bawah 1-5 tahun. Pada rentang umur tersebut, sebanyak 60 anak harus menjadi korban meninggal dunia akibat penyakit gangguan ginjal yang diidapnya. 
 
Kemudian diikuti dengan kasus meninggal dunia yang ditemukan pada anak usia 11 hingga 18 tahun dengan total 29 kasus. Lalu 23 kasus pada anak berusia di bawah 1 tahun. 
 
Adapun, catatan kasus kematian terendah ditemukan pada anak-anak berusia 6 hingga 10 tahun, dengan total 17 kasus. Sementara itu, mengacu pada sejumlah laporan yang disampaikan oleh seluruh rumah sakit di 28 provinsi, toksikasi dari etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang terkandung pada obat sirop masih menjadi faktor risiko terbesar dari maraknya temuan gangguan ginjal akut di Indonesia. 
 
"Berdasarkan penelitian darah dan urin pada pasien, maka didapatkan suatu zat yang menjadi sebab terjadinya keracunan atau intoksikasi pada ginjal anak tersebut. Kemudian biopsi ginjal, kita temukan juga kelainan ginjal yang diakibatkan karena intoksikasi dari EG maupun DEG tersebut," ungkap Syahril. 
Kendati demikian, Syahril memastikan bahwa penelitian terkait penemuan penyebab gangguan ginjal akut masih terus dilakukan oleh Kemenkes yang kemudian menjalin kerja sama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), ahli toksikologi, hingga ahli epidemiologi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gagal ginjal kemenkes
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top