Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Dorong Peningkatan Kesadaran Keanekaragaman Hayati, Indonesia Gelar Asean Heritage Parks, Apa Itu?

Indonesia mendorong peningkatan kesadaran pengelolaan kawasan yang kaya dengan keanekaragaman hayati dengan menggelar konferendi Asean Heritage Parks (AHP).
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 01 November 2022  |  20:27 WIB
Dorong Peningkatan Kesadaran Keanekaragaman Hayati, Indonesia Gelar Asean Heritage Parks, Apa Itu?
Keanekaragaman hayati. - LIPI
Bagikan

Bisnis.com,JAKARTA - Indonesia mendorong peningkatan kesadaran pengelolaan kawasan yang kaya dengan keanekaragaman hayati dengan menggelar konferendi Asean Heritage Parks (AHP).

Gelaran yang dibuka oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Alue Dohong di Bogor, Jawa Barat, Selasa (1/11/2022) itu merupakan salah satu program percontohan dari Asean, yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengelola kawasan yang kaya dengan keanekaragaman hayati secara efektif dan mempromosikan kerja sama yang lebih besar di antara negara-negara anggota Asean dalam melestarikan dan mengelola kawasan lindung.

Menurutnya, sampai saat ini, sudah ada 51 AHP di negara Asean yang terdiri dari 33 kawasan terestrial, 9 kawasan laut dan 9 kawasan lahan basah. Indonesia memiliki 7 taman nasional yang dideklarasikan menjadi AHP SEAN yaitu Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Way Kambas, Taman Nasional Kepulauan Seribu, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Taman Nasional Wakatobi dan Taman Nasional Lorentz.

“Kami berharap konferensi ini akan memperluas peran AHP dalam perlindungan ekosistem dan pemulihan pandemi melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam merencanakan dan menerapkan pengelolaan ekosistem, strategi restorasi, dan membangun ketahanan,” ungkap Alue Dohong.

Dia menrangkan, tutupan hutan di Indonesia kurang lebih 95 juta hektar atau sekitar 51% dari total luas daratan 187 juta Ha. Kawasan berhutan sebesar ini tentunya merupakan cadangan karbon sekaligus modal utama dalam perlindungan lingkungan dan iklim.

Saat ini terdapat 568 kawasan dilindungi termasuk 55 Taman Nasional di Indonesia yang tersebar dari Sabang sampai Merauke; mulai dari perwakilan ekosistem terumbu karang di perairan laut hingga hutan alpine pada ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Beberapa di antaranya diakui sebagai International Recognition seperti World Heritage Site (7 unit), Biosphere Reserve (64 unit), Ramsar Site (7 unit), AHP (7 unit) dan Global Geopark (4 unit).

“Pengakuan tersebut merupakan bukti pentingnya kawasan hutan dan laut serta keanekaragaman hayati Indonesia bagi kepentingan regional dan internasional,” tambahnya.

Menurut Alue Dohong, Pemerintah Indonesia, secara regional dan global, telah melakukan upaya besar untuk mengatasi tantangan dalam melestarikan paru-paru bumi. Namun, untuk saat ini, menurutnya kita membutuhkan harapan yang masuk akal, motivasi yang besar, visi yang tajam, kemitraan yang kuat dan kemauan untuk menciptakan upaya konservasi yang sukses dan strategis sebagai gerakan global.

“Kami memahami bahwa konservasi hanya akan berhasil dan benar-benar berhasil jika komunitas dan project di seluruh dunia mampu menghentikan dan membalikkan tren penurunan spesies dan ekosistem. Oleh karena itu, untuk mewujudkannya, kita sangat membutuhkan transformasi sistemik,” jelasnya.

Dia melanjutkan, implementasi transformasi sistemik tersebut dilakukan melalui beberapa cara, yaitu melindungi potensi keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan di taman nasional dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan lindung, menangani kawasan terbuka melalui kebijakan resolusi konflik tenurial dan restorasi ekosistem, meningkatkan partisipasi masyarakat melalui kemitraan konservasi dan pemberdayaan masyarakat, serta meningkatkan kesadaran untuk menjaga ekosistem hutan dan laut.

"Ada juga mengoptimalkan koordinasi multi-stakeholder seperti kementerian lembaga lain, pemerintah daerah, swasta atau pihak lain dalam mendukung kebijakan pembangunan kawasan yang bersinggungan dengan kawasan lindung; dan Meningkatkan pengelolaan pengembangan kawasan lindung melalui peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan lindung," urainya.

“Biodiversitas adalah tulang punggung bagi kelestarian lingkungan, ekonomi dan sosial. Untuk itu, mari kita jaga untuk konservasi, kita lindungi dan kita manfaatkan secara berkelanjutan,” pungkas Alue Dohong.

Untuk lebih memperkuat jaringan AHP, Asean Center for Biodiversity (ACB), sebagai AHP Sekretariat mengadakan AHP Konferensi setiap 3 tahun sekali dan berfungsi sebagai tempat untuk meningkatkan berbagi pengetahuan dan meningkatkan AHP.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

keanekaragaman hayati klhk hutan
Editor : Puput Ady Sukarno
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top