Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanggal Berapa Puasa Arafah 2022? Ikut Wukuf Arab Saudi?

Apakah puasa Arafah berdasarkan tempat Wukuf Arafah ataukah nama hari ke-9 Dzulhijjah? Kiai Ma’ruf Khozin menjelaskan, Arafah adalah nama hari dan nama tempat.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 03 Juli 2022  |  11:48 WIB
Tanggal Berapa Puasa Arafah 2022? Ikut Wukuf Arab Saudi?
Seorang jemaah haji memanjatkan doa ketika wukuf di Arafah - Reuters/Ahmad Jadallah

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah telah menetapkan bahwa 1 dzulhidjah jatuh pada 1 Juli 2022 dan hari raya Iduladha pada 10 Juli 2022.

Tanggal ini berbeda dengan penetapan di Arab Saudi yang menyatakan bahwa 1 dzulhidjah jatuh pada 30 Juni 2022 dan hari raya Iduladha pada 9 Juli 2022.

Yang menjadi pertanyaan saat ini, jadi kapankah umat  muslim di tanah air melaksanakan puasa Arafah. Puasa Arafah seperti diketahui dilakukan pada 9 Dzulhijjah berdasarkan Wukuf di Arafah.

Direktur Aswaja Center PWNU Jawa Timur, KH Ma’ruf Khozin mengajak masyarakat untuk meletakkan kembali masalah puasa Arafah tersebut.

Apakah puasa Arafah berdasarkan tempat Wukuf Arafah ataukah nama hari ke-9 Dzulhijjah? Kiai Ma’ruf Khozin menjelaskan, Arafah adalah nama hari dan nama tempat.

Sebelum ada Wukuf Arafah nama pada tanggal 9 Dzulhijjah adalah nama Arafah. 

Diriwayatkan dari Malik bahwa para sahabat berbeda tentang puasa Nabi. Ini menunjukkan bahwa puasa Arafah sudah dikenal di kalangan para Sahabat dan mereka terbiasa untuk puasa saat berdomisili/tidak bepergian." (Fath Al-Bari, 4/237)

“Lha kok tiba-tiba menyimpulkan puasa Arafah harus sesuai dengan Wukuf Arafah?” ungkap KH Ma’ruf Khozin.

Senada, Direktur Rumah Fiqih Indonesia, Ustadz Ahmad Sarwat mengungkapkan bahwa selama ini dirinya tidak menemukan dalil yang mewajibkan puasa dengan cara ikut orang wuquf atau sebaliknya.

“Karena kedua jenis ibadah itu disyariatkan secara terpisah dan sendiri-sendiri,” ujar dia dikutip NU Online dari rumahfiqih.com.

Ustadz Ahmad Sarwat menjelaskan, puasa sunnah pada tanggal 9 Dzulhijjah sudah disyariatkan jauh sebelum Nabi Muhammad berhaji dan melaksanakan wuquf. Puasa itu menurut banyak riwayat telah mulai disyariatkan sejak tahun kedua hijriyah. Di tahun tersebut, jelas dia, ada beberapa jenis ibadah yang berbarengan disyariatkan, seperti puasa bulan Ramadan, shalat Idulfitri dan Iduladha serta puasa tanggal 9 Dzulhijjah.

“Sedangkan wuquf yang dilakukan oleh Rasulullah saw belum disyariatkan di masa itu. Sebab Nabi Muhammad dalam posisinya sebagai pembawa wahyu dari langit baru berhaji di tahun kesepuluh hijriyah. Ada rentang waktu kurang lebih sembilan tahun lamanya,” jelas Ustadz Ahmad Sarwat.

Artinya, imbuh dia, ketika di tahun-tahun kedua, ketiga hingga kesembilan Dzulhijah, Rasulullah saw dan para sahabat melaksanakan puasa sunnah, pada saat itu di Arafah tidak ada jamaah haji yang wuquf. Arafah saat itu kosong tidak ada ritual haji.

“Kalau puasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah harus mengacu kepada acara ritual wuquf di Arafah, maka seharusnya Nabi Muhammad dan para sahabat tidak perlu berpuasa sunnah tanggal 9 Dzulhijjah,” jelas Ustadz Ahmad Sarwat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

arab saudi Puasa iduladha
Editor : Mia Chitra Dinisari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top