Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asal Mula Tradisi Halalbihalal Lebaran Khas Indonesia

Halalbihalal merupakan tradisi masyarakat Indonesia yang digelar beberapa hari setelah Hari Raya Idulfitri. Begini asal mulanya.
Haryono Wahyudiyanto
Haryono Wahyudiyanto - Bisnis.com 09 Mei 2022  |  16:55 WIB
Asal Mula Tradisi Halalbihalal Lebaran Khas Indonesia
Presiden Joko Widodo (kiri) menerima Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan (kedua kiri) beserta keluarga saat silaturahmi dan halalbihalal Hari Raya Idulfitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Minggu (25/6). - Antara/Puspa Perwitasari
Bagikan

Bisnis.com, SOLO — Pada hari pertama masuk kerja usai libur Lebaran, sejumlah instansi biasanya menggelar acara halalbihalal untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan.

Antropolog UIN Sunan Kalijaga Muhammad Soehadha mengatakan tradisi halalbihalal bermula dari pisowanan yang dilakukan di Istana Mangkunegaran.

Tradisi pisowanan ini sendiri di Mangkunegaran bisa dirunut sejak era pendiri salah satu kerajaan pecahan Dinasti Mataram ini, yakni Raden Mas Said atau KGPAA Mangkunegara I (1757-1795 Masehi) alias Pangeran Sambernyawa.

Kala itu Mangkunegara I mengumpulkan keluarga dan kerabat kerajaan, para abdi dalem, hingga prajurit. Setelah merayakan Idulfitri, dilakukan acara sungkeman untuk menunjukkan hormat dan meminta ampun atas kesalahan yang dilakukan, baik sengaja atau tidak.

Selanjutnya, pada 1924, majalah Soeara Moehammadijah kala itu menuliskan tentang halalbihalal. Penyebutannya adalah “alal bahalal” yang artinya kegiatan silaturahmi, memohon maaf antarumat Islam selepas Lebaran.

Soeara Muhammadiyah pun menawarkan kepada umat Islam khususnya warga Muhammadiyah untuk menyampaikan ucapan selamat Idulfitri melalui majalah tersebut.

Istilah halalbihalal kemudian dipopulerkan oleh Presiden Soekarno yang saat pada 1948 mengundang salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Wahab Chasbullah. Saat itu, Soekarno meminta masukan dari KH Wahab Chasbullah untuk mendamaikan berbagai pihak, golongan dan elite politik yang saling menyalahkan pemerintahan. Seperti diketahui pemerintahan saat itu belum stabil karena masih dalam suasana revolusi kemerdekaan.

Menjawab pertanyaan Bung Karno, KH Wahab Chasbullah mengusulkan untuk diadakan acara silaturahmi. Kebetulan saat itu menjelang Hari Raya Idulfitri 1367 H. Presiden Soekarno dan KH Wahab Chasbullah kemudian sepakat dengan istilah halalbihalal.

“Para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu ‘kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa [haram], maka harus dihalalkan,” kata KH Wahab Chasbullah dilansir dari NU Online.

“Jadi esensi halalbihalal bukan kumpul makan-makan. Dalam hal ini, acara halalbihalal menjadi ajang untuk mendamaikan hubungan yang keruh agar jernih. Jika hubungan itu kusut, maka acara halalbihalal diharapkan menjadi media untuk meluruskan hubungan tersebut,” ujar Ustaz Adi Hidayat dalam akun YouTube Islampedia.

-----

Berita ini telah tayang di Solopos.com dengan judul "Halalbihalal Tradisi Lebaran Khas Indonesia, Begini Asal Mulanya"

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minta maaf idulfitri halal bihalal

Sumber : JIBI/Solopos.com

Editor : Aliftya Amarilisya
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top