Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gara-gara Rusia, Proyek Transisi Energi Eropa Terhambat

Perang Rusia-Ukraina membuat rencana transisi energi Eropa menjadi terhambat.
Faustina Prima Martha
Faustina Prima Martha - Bisnis.com 04 April 2022  |  05:34 WIB
Gara-gara Rusia, Proyek Transisi Energi Eropa Terhambat
Energi terbarukan - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana ambisius Eropa untuk keluar dari ketergantungan biaya tambahan karena perang Rusia- Ukraina membuat baja, tembaga dan aluminium langka dan berharga lebih mahal. Hal ini menghambat upaya Eropa untuk melaksanakan proyek transisi energi.

Urgensi untuk menggantikan bahan bakar fosil Rusia mendorong benua biru untuk fokus menambah aliran gas alam cair dalam waktu dekat dan meningkatkan pembangkitan dari sumber terbarukan pada 2030.

Jerman berjanji untuk membangun dua terminal LNG, Prancis ingin melanjutkan pembicaraan dengan Spanyol tentang pipa gas penghubung, dan Inggris mencari lebih banyak tenaga angin, surya, dan nuklir yang dipasang di dalam negeri.

“Perang tentu saja berdampak pada semua perusahaan, termasuk kami, yang berada di ambang pintu untuk melakukan investasi berbiaya besar, yang membuat platform baja untuk turbin angin. Ini menyulitkan bisnis kami,” kata Fred van Beers, CEO SIF Holding NV, dikutip dari Bloomberg, Minggu (03/04/2022).

Sebelum invasi ke Ukraina, harga gas Rusia relatif murah dan mudah diangkut dan dalam pasokan besar. Faktor-faktor tersebut ditambah antisipasi pembukaan pipa Nord Stream 2 ke Jerman, membantu membujuk Eropa untuk mengurangi produksinya sendiri. Eropa juga mulai menutup PLTU dan reaktor nuklir untuk fokus pada sumber yang lebih bersih.

Berdasarkan data dari International Energy Agency (IEA), sekitar 30 miliar meter kubik (gas dari Rusia) dapat digantikan oleh pemasok lain, dengan selisih kebutuhan dapat ditutupi oleh energi terbarukan, nuklir, dan perubahan konsumsi.

“Harga infrastruktur di Uni Eropa naik sebanyak 20 persen lebih tinggi daripada sebelum perang dimulai. [Biaya] pembangunannya akan lebih mahal daripada yang direncanakan pemerintah. Beberapa proyek [pengembangan energi terbarukan] akan tertunda jika harga tetap tinggi,” jelas Grant Sporre, seorang analis di Bloomberg Intelligence.

Rencana transisi energi Uni Eropa mencakup instalasi 290 gigawatt PLTB dan 250 gigawatt PLTS. Biaya investasi untuk pembelian baja saja mencapai 65 miliar euro (US$72 miliar) dengan harga pasar saat ini.

Rusia dan Ukraina merupakan negara pengekspor pelat baja terbesar yang digunakan untuk membangun turbin PLTB dan pipa gas. Sementara sumber alternatif dimungkinkan meski biaya untuk itu 50 persen lebih tinggi dari biasanya, menurut analisis dari Rysted Energy AS.

Masalah ini diperparah dengan keputusan China untuk melakukan lockdown pusat produksi baja Tangshan dalam upaya untuk mengendalikan wabah Covid-19.

"Ada lonjakan biaya dalam rantai pasokan untuk semua produk baja di Eropa," kata James Ley, Wakil Presiden Senior untuk Energi Logam di Rystad.

Tembaga adalah bahan penting lainnya, dengan konduktivitas tinggi yang ideal untuk pembuatan kabel internal dan kabel eksternal. Eropa membutuhkan sekitar 7,7 juta ton untuk memenuhi target 2030, dan reli tahun ini meningkatkan harga hingga sekitar US$7,6 miliar, menurut Bank of America Corp.

Selanjutnya ada aluminium yang dibutuhkan untuk panel surya, turbin angin, dan jaringan yang terhubung dengannya. Eropa mengalami kekurangan kritis karena produksi turun setelah melonjaknya biaya listrik mengurangi keuntungan peleburan.

Rusia adalah produsen aluminium terbesar selain China, dengan aluminium olahannya menyumbang sekitar 5 persen dari produksi global. Pasar sudah ketat memasuki tahun ini, menurut BloombergNEF, dan harga meroket ke rekor di bulan Maret. Risiko bahwa pengiriman Rusia dapat terhambat oleh potensi sanksi membantu memicu peningkatan tersebut.

“Dunia mungkin harus bertahan tanpa pasokan [logam] Rusia. Itu pasti bisa dilakukan, tetapi akan ada periode penyesuaian,” Andrew Forrest, ketua dan pendiri Fortescue Group Metals Ltd.

Lebih banyak jaringan akan dibutuhkan untuk mengirimkan sejumlah besar listrik berbasis energi terbarukan ke tempat yang membutuhkan listrik. Sekitar US$1,5 triliun dalam investasi kumulatif dari 2020 hingga 2050 diperlukan untuk menambah koneksi baru.

Sementara itu, proyek LNG masih berjalan lancar dengan adanya rencana Jerman untuk dua terminal baru segera setelah tahun ini dan Belanda mengamankan penyimpanan terapung dan unit regasifikasi pada bulan Maret. Italia dan Estonia juga mendukung rencana tersebut.

Inggris dan Prancis sedang berencana melakukan ekspansi besar-besaran tenaga nuklir. Sekitar 230.000 ton tulangan baja akan digunakan untuk membangun Hinkley Point C Electricite de France SA di Inggris barat daya, dan rencana peluncuran reaktor lain dengan desain yang sama.

“Semua orang berbicara tentang percepatan transisi energi, dan semua orang akan membutuhkan bahan yang sama,” pungkas Julian Kettle, wakil presiden senior untuk logam dan pertambangan di Wood Mackenzie Ltd.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa Transisi energi Perang Rusia Ukraina

Sumber : Bloomberg

Editor : Amanda Kusumawardhani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top