Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gempa 5,2M di Wilayah Kepulauan Morotai, Maluku Utara 

Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M)5,2 terjadi pada Rabu (17/3), sekitar pukul 08.49 di 60 km Timur Laut Daruba, kedalaman 14 km, Kepulauan Morotai, Maluku Utara.
Ilustrasi gempa/pixabay.com
Ilustrasi gempa/pixabay.com

Bisnis.com, JAKARTA - Gempa bumi dengan magnitudo (M)5,2 terjadi pada Rabu (17/3), sekitar pukul 08.49 WIB dirasakan masyarakat sekitar Kepulauan Morotai, Provinsi Maluku Utara. Pusat gempa berada pada 60 km Timur Laut Daruba, Maluku Utara, dengan kedalaman 14 km. 

BPBD Kabupaten Kepulauan Morotai menginformasikan warganya merasakan guncangan sedang. Guncangan dirasakan sekitar 2 hingga 3 detik. 

Saat ini dampak gempa masih dalam pemantauan oleh BPBD Kabupaten Kepulauan Morotai, dan belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Sementara itu, berdasarkan analisis pemodelan dari parameter gempa, gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Analisis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika pada guncangan gempa yang diukur dengan skala MMI atau Modified Mercalli Intensity menunjukkan wilayah Morotai  mencapai II – III MMI. 

Melalui analisis InaRISK diketahui Pulau Morotai merupakan wilayah dengan potensi bahaya gempa bumi dengan kategori sedang hingga tinggi. Sebanyak 5 kecamatan di kabupaten ini berada pada potensi tersebut dengan jumlah luas daerah yang terpapar bahaya mencapai 234.210 hektar.

Menyikapi potensi bahaya gempa bumi di daerah Kepulauan Morotai tersebut, BNPB terus memberikan imbauan kepada warga agar memahami potensi risiko kegempaan di wilayah masing-masing. 

“Kami meminta masyarakat senantiasa siaga sesuai kondisi rumah masing-masing. Upayakan agar tidak menaruh barang-barang yang berpotensi jatuh dan menghalangi evakuasi saat gempa,” ujar Abdul Muhari, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam keterangannya, Rabu (9/3/2022)

Sebelumnya, tahun 2019 dan 2020 lalu wilayah Morotai juga pernah dihantam gempa berkekuatan 6,8 magnitudo yang merusak ratusan rumah dan membuat 800 kepala keluarga mengungsi untuk menghindari dampak yang lebih membahayakan.  


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Wahyu Arifin
Editor : Wahyu Arifin
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper