Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Apa Itu Lumpy Skin? Penyakit Menular yang Menyerang Hewan

Ini pengetian Lumpy Skin Disease (LSD), penyakit kulit pada hewan ternak sapi dan kerbau yang telah sampai di Indonesia.
Restu Wahyuning Asih
Restu Wahyuning Asih - Bisnis.com 07 Maret 2022  |  12:10 WIB
Apa Itu Lumpy Skin? Penyakit Menular yang Menyerang Hewan
Penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang hewan ternak sapi dan kerbau - Balai Besar Vereriner Wates
Bagikan

Bisnis.com, SOLO - Penyeberan penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) telah sampai di Indonesia.

Penyakit yang diakibatkan oleh virus ini menyerang hewan jenis sapi dan kerbau.

LSD menyebabkan luka pada kulit, demam, kehilangan nafsu makan, penurunan produksi susu, dan dapat menyebabkan kematian.

Dilansir dari ABC, LSD tercatat menyebar cukup cepat di kawasan Asia Tenggara dan kini telah menjangkiti beberapa peternakan di Sumatra, salah satunya Riau. 

Kepala Dokter Hewan Australia Mark Schipp mengaku telah mengamati penyebaran LSD di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. 

"[Kasus LSD] Sangat memprihatinkan mengingat Indonesia sangat dekat dengan Australia utara dan beberapa tetangga yang rentan di utara kita, yaitu Timor Leste dan Papua Nugini," ujarnya seperti dikutip dari ABC, Mingggu (6/3/2022). 

Lantas apa itu Lumpy Skin Disease atau LSD?

Dikutip dari situs resmi Balai Besar Veteriner Wates, LSD adalah penyakit kulit infeksius yang disebabkan oleh Lumpy Skin Disease Virus (LSDV).

Virus tersebut merupakan materi genetik DNA dari genus Capripoxvirus dan famili Poxviridae.

Penyakit dapat tertular melalui kontak langsung dengan lesi kulit.

Namun virus juga bisa menyebar pada hewan ternak melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu. Penularan juga dapat terjadi secara intrauterine.

Penularan secara tidak langsung bisa terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik.

LSD pertama kali dilaporkan di Zambia, Afrika pada tahun 1929 dan terus menyebar di benua Afrika, Eropa dan Asia.

Pada tahun 2019, LSD dilaporkan di China dan India lalu setahun setelahnya dilaporkan di Nepal, Myanmar dan Vietnam.

Kemudian pada tahun 2021, LSD dilaporkan menyebar di Thailand, Kamboja dan Malaysia.

Penyakit ini ditandai dengan adanya nodul berukuran 1-7 cm.

Tanda tersebut ditemukan pada daerah leher, kepala, kaki, ekor, dan ambing.

Pada kasus berat, nodul atau benjolan yang muncul ditemukan hampir di seluruh bagian tubuh hewan ternak.

Munculnya benjolan ini biasanya diawali dengan demam hingga lebih dari 40,5 derajat celcius.

Masa inkubasi LSD berkisar antara 1-4 minggu.

Hingga kini, belum ditemukan bukti bahwa penyakit ini bisa menular ke manusia atau tidak. Meskipun penting untuk mengetahui cara pencegahan penularan dari hewan ternak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sapi penyakit
Editor : Restu Wahyuning Asih
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top