Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Perang, Ukraina Tuntut Dunia Embargo Minyak dan Lumpuhkan Ekonomi Rusia

Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menuntut warga dunia untuk mengembargo pasokan minyak dari Russia setelah sejumlah titik Ibu Kota Ukraina, Kyiv dihujani rudal pasukan milter Rusia
Nyoman Ary Wahyudi
Nyoman Ary Wahyudi - Bisnis.com 26 Februari 2022  |  16:39 WIB
Potret Vladimir Putin, Presiden Rusia, dipajang di toko Angkatan Darat Rusia di Moskwa, Rusia, Rabu (23/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk
Potret Vladimir Putin, Presiden Rusia, dipajang di toko Angkatan Darat Rusia di Moskwa, Rusia, Rabu (23/2/2022). Pasukan Rusia menyerang Ukraina setelah Presiden Vladimir Putin memerintahkan operasi untuk "demiliterisasi" Ukraina, yang memicu kecaman internasional dan ancaman AS akan "sanksi berat" lebih lanjut terhadap Moskwa. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba menuntut warga dunia untuk mengembargo pasokan minyak dari Rusia setelah sejumlah titik Ibu Kota Ukraina, Kyiv dihujani rudal pasukan milter Rusia, Jumat (25/2/2022) malam waktu setempat.

“Saya menuntut dunia untuk mengisolasi Rusia sepenuhnya, mengusir duta besar mereka, embargo minyak, lumpuhkan ekonominya. Hentikan penjahat perang Rusia!” cuit Dmytro melalui akun Twitter pribadinya, Sabtu (26/2/2022).

Menurut Dmytro, manuver embargo terhadap pasokan sumber daya alam dari Rusia seperti minyak bakal signifikan untuk melumpuhkan perekonomian negara adigdaya di blok timur tersebut.

Embargo yang juga diikuti dengan isolasi sepenuhnya Rusia, kata dia, mesti dilakukan segera. Alasannya, pasukan militer Rusia sudah mendekati Kyiv setelah melumpuhkan ratusan infrastruktur pertahanan Ukraina.

“Kyiv, kota kami yang indah dan damai, dapat bertahan satu malam lagi lagi di bawah serangan pasukan darat Rusia, rudal. Salah satunya telah menghantam sebuah apartemen perumahan di Kyiv,” cuitnya.

Pada Kamis (24/2/2022) invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga minyak di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2014, dengan harga minyak Brent menyentuh US$105, sebelum memangkas keuntungan pada penutupan perdagangan.

Serangan itu adalah serangan terbesar di negara Eropa sejak Perang Dunia II, mendorong puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka. Pada Jumat (25/2/2022) rudal Rusia menggempur Kyiv, keluarga-keluarga ketakutan di tempat penampungan dan pihak berwenang mengatakan kepada penduduk untuk menyiapkan bom Molotov untuk mempertahankan Ibu Kota Ukraina.

Pada Kamis (24/2/2022) Presiden AS Joe Biden menanggapi invasi dengan gelombang sanksi yang menghambat kemampuan Rusia untuk melakukan bisnis dalam mata uang utama, bersama dengan sanksi terhadap bank-bank dan perusahaan milik negara.

Inggris, Jepang, Kanada, Australia, dan Uni Eropa, juga meluncurkan sanksi, termasuk langkah Jerman untuk menghentikan sertifikasi pipa gas Rusia senilai US$11 miliar. Namun, aliran minyak dan gas Rusia tidak secara khusus ditargetkan oleh sanksi, kata seorang pejabat AS. Negara ini adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia dan penyedia gas alam utama ke Eropa.

"Sebanyak 2,3 juta barel per hari dari 4,6 juta barel per hari ekspor minyak mentah Rusia pergi ke Barat," kata analis Wood Mackenzie dalam sebuah catatan.

"Kami melihat perlambatan dalam pembelian minyak mentah Rusia. Sampai persyaratan pembayaran diklarifikasi, pengetatan lebih lanjut dalam keseimbangan penawaran dan permintaan diperkirakan.”

Biden mengatakan, bahwa Amerika Serikat sedang bekerja dengan negara-negara lain dalam pelepasan gabungan minyak tambahan dari cadangan minyak mentah strategis mereka.

"Jelas pembicaraan tentang SPR cadangan minyak strategis) masih ada dan itu menjadi faktor negatif, tetapi ketidakpastian memasuki akhir pekan akan mendukung," kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, di Chicago.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rusia Perang Rusia Ukraina
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top