Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengapa KTT COP26 Berakhir dengan Kekecewaan?

Pertemuan puncak perubahan iklim global (COP26) akhirnya ditutup dengan hasil mengecewakan kalau tidak mau disebut gagal pada pekan lalu.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 20 November 2021  |  12:25 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato pada KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26, di Glasgow, Senin (1/11/2021) - BPMI Setpres - Laily Rachev.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato pada KTT Pemimpin Dunia tentang Perubahan Iklim atau COP26, di Glasgow, Senin (1/11/2021) - BPMI Setpres - Laily Rachev.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah melakukan beberapa putaran perundingan selama dua minggu, pertemuan puncak perubahan iklim global (COP26) akhirnya ditutup dengan hasil mengecewakan kalau tidak mau disebut gagal pada Sabtu (13/11/2021).

Seluruh 197 negara yang berpartisipasi sepakat mengadopsi apa yang disebut dengan Pakta Iklim Glasgow. Hanya saja, intervensi salama 11 jam oleh India membuat kesepakatan akhir diperlunak dari "menghilangkan pemakaian batu bara secara bertahap" (phase out) menjadi "mengurangi setahap demi setahap (phase down) komoditas tambang itu.

Diksi tersebut memang agak membingungkan, tetapi phase out lebih bernuansa mengganti batu bara dengan bahan bakar lain, bukan mengurangi kadar penggunaan bahan bakar batu bara secara bertahap atau phase down.

Dalam pidato terakhir yang emosional, Presiden COP26 Alok Sharma meminta maaf atas perubahan pada menit terakhir itu. Permintaan maafnya disampaikannya karena terkait pokok dari tujuan COP26 di Glasgow.

Pada dasarnya tujuannya adalah memberikan hasil yang sesuai dengan tindakan mendesak (red code) yang diperlukan untuk mencapai target Perjanjian Paris.

Pada awal KTT, Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak semua negara agar menjaga target pemanasan global pada batas 1,5 derajat Celcius. Tujuannya untuk mempercepat dekarbonisasi ekonomi global selain menghilangkan penggunaan batubara secara bertahap.

“Jadi, apakah COP26 gagal? Jika kami mengevaluasi ini menggunakan tujuan awal yang dinyatakan dalam KTT, jawabannya adalah ya, itu gagal,” kata Robert Hales, Direktur Griffith Center for Sustainable Enterprise pada Griffith Business School seperti dikutip ChannelNewsAsia.com, Selasa (16/11/2021).

Menurutnya, dua item tiket besar yang tidak terealisasi dari hasil pertemuan itu adalah memperbarui target untuk tahun 2030 sejalan dengan pembatasan pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius. Kedua, adalah kesepakatan untuk mempercepat penghentian penggunaan batu bara.

Di antara kegagalan tersebut ada keputusan penting dan titik terang yang menonjol. Hales menilai setidaknya, kampanye iklim telah mendorong delegasi COP untuk membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius.

1 dari 3 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perubahan iklim COP26
Editor : Nancy Junita
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top