Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Soal Pemain Kakap di Bisnis PCR hingga "Serangan" Balik Menko Luhut

KPPU masih menyelidiki kasus dugaan apakah terjadi persaingan tidak sehat dalam bisnis PCR. Meski demikian mereka membenarkan ada pemain kelas kakap dalam bisnis wabah tersebut.
Tim Bisnis
Tim Bisnis - Bisnis.com 15 November 2021  |  20:30 WIB
Warga menjalani tes usap atau swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta, Senin (2/11/2020). - Antara
Warga menjalani tes usap atau swab test di GSI Lab (Genomik Solidaritas Indonesia Laboratorium), Cilandak, Jakarta, Senin (2/11/2020). - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) masih mendalami kemungkinan adanya kelompok besar yang memanfaatkan kondisi pandemi Covid-19 untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya melalui bisnis PCR

Direktur Ekonomi KPPU Mulyawan Ranamanggala mengatakan bahwa pihaknya masih menyelidiki apakah terjadi persaingan tidak sehat dalam bisnis PCR.

"Kami indikasikan bahwa ada beberapa kelompok usaha dalam pelaku usaha laboratorium. Kami sedang dalami bagaimana kekuatan kelompok usaha ini dalam pangsa pasarnya di bisnis tes PCR yang dilakukan selama ini," katanya dalam sebuah diskusi virtual, Jumat (12/11/2021).

Adapun, beberapa perusahaan kenamaan yang berkecimpung di bisnis tes Covid-19 dan kini menjadi sorotan publik karena diduga menjadikan pandemi sebagai lahan basah untuk mengeruk cuan sedalam-dalamnya.

Yang masih hangat, PT Genomik Soldaritas Indonesia (GSI) atau GSI Lab diduga menjadi perusahaan tempat beberapa menteri meraup keuntungan dari bisnis PCR yang dijalankannya.

Sementara itu, perusahaan lainnya seperti Bumame Farmasi hingga Intibios otomatis terseret juga karena diketahui memiliki puluhan cabang laboratorium pengetesan Covid-19.

Ketika dikonfirmasi apakah perusahaan-perusahaan yang kini viral tersebut terlibat dalam monopoli bisnis tes PCR, Mulyawan mengaku belum bisa memastikannya.

"Mengenai data kelompok pelaku usaha besar yang banyak beredar, mungkin saya bisa jawab sebagian mungkin benar. Tapi kami masih akan verifikasi dari informasi beredar, kami masih pendalaman," ujarnya.

Adapun, Pemerintah tercatat telah mengubah harga eceran tertinggi (HET) tes PCR sebanyak tiga kali sejak Oktober 2020 hingga Oktober 2021.

Berdasarkan catatan KPPU, harga tes PCR pada November 2020 berkisar antara Rp898.000 hingga Rp1.556.000, tergantung wilayahnya.

Lalu, pada Agustus-September 2021 adalah Rp527.000-Rp690.000, Oktober 2021 adalah Rp479.000-Rp542.000, dan November 2021 adalah Rp274.000-Rp343.000

Mulyawan menyampaikan bahwa besaran harga tes PCR sangat bergantung kepada harga reagen karena menjadi komponen dengan porsi harga terbesar.

Walhasil, importir dan distributor reagen memiliki peran besar dalam penyesuaian harga tes PCR.

“Hal ini mengindikasikan peran importir dan distributor reagen dalam mempengaruhi harga tes PCR,” kata Mulyawan.

1 dari 5 halaman

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Luhut Pandjaitan PCR
Editor : Edi Suwiknyo
Bagikan

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top