Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Oknum TNI AU Injak Kepala Penyandang Disabilitas, Apa yang Disampaikan Steven saat Meronta?

Penyandang disabilitas yang diketahui bernama Steven itu menggerakkan tangan sebagai isyarat, mengeluarkan suara, dan meronta.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 29 Juli 2021  |  09:16 WIB
Oknum TNI AU Injak Kepala Penyandang Disabilitas, Apa yang Disampaikan Steven saat Meronta?
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo meminta maaf atas kekerasan yang dilakukan oleh dua anggota TNI AU di Bandara J.A. Dimara Merauke, Papua. - Twittter @_TNIAU
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Seorang difabel sensorik rungu menjadi korban kekerasan dua anggota TNI AU atau Angkatan Udara di Lanud JA Dimara Merauke, Papua.

Dalam video yang beredar di masyarakat, tampak penyandang disabilitas itu berusaha menyampaikan sesuatu melalui bahasa isyarat kepada dua anggota TNI AU tadi.

Penyandang disabilitas yang diketahui bernama Steven itu menggerakkan tangan sebagai isyarat, mengeluarkan suara, dan meronta.

Bukannya mencoba menyimak, dua anggota TNI AU itu langsung membekuk difabel tersebut, menelungkupkannya di trotoar, kemudian menginjak kepalanya.

Sejatinya apa yang hendak disampaikan oleh Steven saat peristiwa itu terjadi?

Aktivis penyandang disabilitas sensorik tuli atau rungu dari Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel atau SIGAB, M. Ismail berusaha membaca gerak tubuh Steven yang terlihat dalam video.

"Sepertinya Steven belum mampu menerapkan bahasa isyarat formal," kata Ismail, Kamis (29/7/2021).

Hal itu terlihat dari bahasa isyarat berupa gerakan atau bahasa tubuh atau gesture alami yang ditunjukkan oleh Steven.

"Itu bahasa isyarat lokal, belum terbentuk menjadi bahasa alphabet seperti Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) atau SIBI (Sistem Isyarat Bahasa Indonesia)," ujarnya.

Dari gerakan Steven di video, Ismail menangkap pesan saat insien itu terjadi, Steven hanya ingin menyampaikan kalau dia butuh makan.

"Hanya saja, orang di sekelilingnya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Steven," katanya.

Dia juga tampaknya belum mengetahui bahasa isyarat resmi yang biasa digunakan penyandang disabilitas sensorik tuli atau rungu, yakni SIBI dan Bisindo.

Di Indonesia terdapat dua jenis bahasa isyarat yang digunakan penyandang disabilitas sensorik pendengaran atau Insan Tuli dan Tunarungu.

Dua jenis bahasa isyarat itu adalah Bisindo dan SIBI. Bisindo merupakan bahasa yang berkembang secara alami di kelompok masyarakat Tuli Indonesia. Sementara, SIBI adalah tata cara mempresentasikan bahasa lisan Indonesia ke dalam gerakan tertentu,.

Dua sistem bahasa isyarat ini belum tentu digunakan oleh semua Insan Tuli atau tunarungu. Musababnya, setiap Insan Tuli atau Tunarungu punya bahasa asli, bahasa alami dengan gesture yang berbeda-beda.

Salah satu contoh yang paling umum adalah penggunaan Bahasa Kolog di sebuah desa Tuli atau Rungu di Bali.

Mengenai peristiwa tersebut, TNI AU telah menyelidiki dan telah memeriksa dua prajurit TNI AU yang melakukan kekerasan terhadap Steven.

Serda A dan Prada V telah ditetapkan sebagai tersangka. Kepala Staf TNI AU, Marsekal Fadjar Prasetyo minta maaf kepada korban dan masyarakat Papua.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

difabel tni au penyandang disabilitas

Sumber : Tempo.Co

Editor : Nancy Junita
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top