Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jepang Berencana Batasi Gerak Jurnalis Peliput Olimpiade

Penggunaan GPS untuk membatasi ruang gerak jurnalis didukung dengan penggunaan sistem pemantau keamanan yang sudah diujicoba beberapa waktu lalu.
Ilustrsai - Wartawan mengambil gambar cincin raksasa Olimpiade pada 1 Desember 2020 di Tokyo, Jepang./Antara/Reuters
Ilustrsai - Wartawan mengambil gambar cincin raksasa Olimpiade pada 1 Desember 2020 di Tokyo, Jepang./Antara/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Jepang berencana membatasi ruang gerak jurnalis yang ditugaskan meliput penyelenggaraan Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo. Pembatasan dilakukan dengan menggunakan teknologi berbasis global positioning system (GPS).

Ketua Komite Penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo Hashimoto Seiko mengatakan jurnalis meliput ajang tersebut akan dipantau selama dua pekan dengan menggunakan GPS dan lainnya. Demikian diberitakan Nippon Hoso Kyokai/NHK, Rabu (9/6/2021).

Hashimoto mengatakan hal itu dalam rapat komite penyelenggara pada Selasa (8/6/2021).

Dia mengatakan sebanyak 78.000 orang, termasuk pejabat Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan media asing diperkirakan datang ke Jepang untuk menyaksikan ajang tersebut.

Hashimoto mengatakan pemantauan yang ketat bertujuan mencegah para jurnalis keluar dari area yang telah ditentukan. Upaya tersebut dilakukan untuk menekan penyebaran Covid-19 di Negeri Sakura.

Hashimoto mengatakan wartawan yang mengunjungi Jepang hanya akan diizinkan memilih hotel yang telah ditentukan. Mereka akan dilarang tinggal di penginapan pribadi atau rumah temannya.

Dia menambahkan jumlah fasilitas penginapan yang ditentukan bagi wartawan dari luar negeri akan dikurangi dari 350 menjadi sekitar 150.

Komite Penyelenggara Tokyo berencana mendirikan pusat keamanan bagi masing-masing 48 tempat ajang, termasuk kampung atlet. Sekitar 8.000 kamera keamanan dan 2.500 sensor akan dipasang di dalam dan sekitar tempat-tempat itu.

Uji coba tersebut dilakukan di salah satu tempat di Tokyo, Senin (07/06/2021), berdasarkan asumsi bahwa seseorang yang mencurigakan melakukan pelanggaran keamanan dengan memanjat pagar.

Penggunaan GPS untuk membatasi ruang gerak jurnalis didukung dengan penggunaan sistem pemantau keamanan yang sudah diujicoba beberapa waktu lalu.

Ketika sensor yang dipasang di pagar terpicu, orang-orang yang ikut serta dalam uji coba tersebut mengonfirmasi keberadaan sosok orang yang mencurigakan menggunakan kamera terdekat.

Seseorang di pusat itu menghubungi kepolisian untuk mendapatkan bantuan dan petugas keamanan dikerahkan ke tempat itu guna menahan sosok mencurigakan tersebut.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rezha Hadyan
Editor : Saeno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper