Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah Wimar Witoelar, dari Pengagum Jadi Juru Bicara Presiden Gus Dur

Wimar pernah memandu program acara televisi bernama Perspektif pada 1994. Saat itu, dia sudah menunjukkan kecenderungannya sebagai oposisi pemerintah yang kala itu dipimpin oleh rezim Orde Baru.
Kaled Hasby Ashshidiqy
Kaled Hasby Ashshidiqy - Bisnis.com 19 Mei 2021  |  11:19 WIB
Wimar Witoelar. - Instagram @wimarwitoelar
Wimar Witoelar. - Instagram @wimarwitoelar

Bisnis.com, SOLO - Wimar Witoelar akhirnya menyerah setelah berjuang mengatasi sepsis yang dideritanya pada Rabu (19/5/2021).

Sepsis adalah komplikasi akibat infeksi yang dapat menimbulkan tekanan darah turun drastis, dankerusakan pada banyak organ.

Pria berbadan subur berusia 75 tahun ini yang juga memiliki penyakit penyerta seperi diabetes mellitus (DM), akhirnya meninggal di ICU RS Pondok Indah Jakarta Selatan.

Wimar merupakan sosok yang cukup populer pada tahun 90-an hingga awal 2000-an.

Pria bernama lengkap Wimar Witoelar Kartaadipoetra ini kian populer setelah diangkat Presiden ke-14 RI, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebagai juru bicaranya.

Sebelumnya, dia dikenal sebagai pembawa acara di televisi setelah kembali dari Amerika Serikat (AS).  Wimar cukup aktif dengan menjadi kolumnis dan kementator di media massa, baik lokal maupun internasional.

Wimar pernah memandu program acara televisi bernama Perspektif pada 1994. Saat itu, dia sudah menunjukkan kecenderungannya sebagai oposisi pemerintah yang kala itu dipimpin oleh rezim Orde Baru.

Pada akhirnya, dia sendiri menjadi bagian dari pemerintah saat Presiden Gus Dur memintanya menjadi juru bicara. Wimar dianggap sebagai orang yang paling memahami pemikir Gus Dur.

"Saya tentu sudah mengenal dari lama, tapi dia tidak mengenal saya. Apalagi sudah menjadi presiden, saya hanya mengikuti dari jauh. Saya mempunyai aktivisme di bidang pers, TV dan saya banyak mengomentari kegiatan Gus Dur, terutama saat dia disalahmengerti. Kalau orang mencela Gus Dur, saya suka menulis atau mengatakan bahwa, 'Anda salah tafsir, Gus Dur itu maksudnya seperti ini'," ujar Wimar dalam sebuah wawancara pada 23 Januari 2019 yang dikutip solopos.com dari perspektifbaru.com.

Kagum Gus Dur

Pernyataan Wimar itu ditafsirkan sebagai pembelaan.

"Memang saya sifatnya barangkali memiliki loyalitas, jadi kalau saya membela orang, dikira saya adalah orangnya, padahal saya tidak kenal. Jadi, Gus Dur itu orang yang sangat saya apresiasi. Bahkan, karena begitu kagumnya, sehingga saya tidak semangat kalau bertemu dia, karena kalau ketemu bingung mau bicara apa," lanjut Wimar.

"Saya merasa sangat rendah, tapi tulisan-tulisan saya mendapat perhatian dari beliau dan keluarganya. Lama-lama saya diperkenalkan kepada Gus Dur. Terutama waktu beliau sedang diserang oleh DPR, partai-partai, ormas, dan saya selalu memberikan komentar bagaimana mengatasinya. Akhirnya diperkenalkan, waktu itu saya dibawa ke ruang minum teh di mana ada Gus Dur, Alwi Shihab, dan beberapa orang. Jadi saya itu dikuasai oleh kekaguman dan tidak pernah berfikir bahwa pendapat saya akan dipakai."

Wimar lahir di Padalarang, Jawa Barat pada 14 Juli 1945. Dia merupakan anak bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Raden Achmad Witoelar Kartaadipoetra dan Nyi Raden Toti Soetiamah Tanoekoesoemah.

Kini Wimar telah berpulang. Selamat jalan.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

juru bicara presiden gus dur Wimar Witoelar

Sumber : Solopos

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top