Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Deteksi Warga Mudik, Satgas Covid: Semoga Tidak Ada Klaster Baru

Pemerintah berharap bisa menjaga tren kurva Covid-19 yang saat ini sedang stagnan, ketika negara-negara lain di dunia sedang mengalami kenaikan kasus.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 04 Mei 2021  |  18:47 WIB
Sejumlah petugas gabungan dari Kepolisian, Satpol PP dan Dinas Perhubungan berjaga di checkpoint penyekatan arus mudik Tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2020). Pada H-1 jelang Lebaran, Direktorat Lalu lintas Poda Metro Jaya melakukan rekayasa lalu lintas menjadi satu jalur untuk mempermudah penyekatan mobil pribadi dan angkutan umum yang membawa pemudik. - ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah
Sejumlah petugas gabungan dari Kepolisian, Satpol PP dan Dinas Perhubungan berjaga di checkpoint penyekatan arus mudik Tol Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (23/5/2020). Pada H-1 jelang Lebaran, Direktorat Lalu lintas Poda Metro Jaya melakukan rekayasa lalu lintas menjadi satu jalur untuk mempermudah penyekatan mobil pribadi dan angkutan umum yang membawa pemudik. - ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Kendati sudah dilarang, Satgas Penanganan Covid-19 memprediksi setidaknya akan ada 7 persen masyarakat yang nekat mudik lebaran.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito mengharapkan tak sampai terjadi klaster mudik. Pasalnya, kurva Covid-19 Indonesia saat ini sedang stagnan, ketika negara-negara lain di dunia sedang mengalami kenaikan kasus. 

“Indonesia seperti di tengah badai, ketika negara lain sedang naik, Indonesia sedang turun tapi sekarang mendatar. Apa yang kita lakukan sudah sesuai, tapi berpotensi bisa naik seperti negara lain kalau kita tidak bisa mengendalikan,” kata WIku pada talkshow, Selasa (4/5/2021). 

Wiku menjelaskan, di negara lain terjadi kenaikan karena warganya tidak bisa mengendalikan mobilitas, seperti melakukan aktivitas budaya, aktivitas politik, dan bepergian. 

“Semuanya itu tidak terkendali, dan sekali kena, lonjakannya begitu tinggi, karena penularannya disebabkan ketika mereka berdempetan, tidak melakukan protokol kesehatan. Jadi kita harus cegah jangan sampai itu terjadi. Maka dari itu pemerintah sudah sebulan lebih ingatkan jangan mudik,” kata Wiku. 

Wiku memaparkan, peniadaan mudik itu jelas akan menjadi sarana transmisi virus, karena mudik akan melakukan silaturahmi fisik, yang mana, jika mengikuti budaya, tidak mungkin tidak saling bersentuhan. 

“Walaupun sudah tahu prokes. Termasuk kalangan intelektual pun, kalau sudah mengenai budaya mudik, kalau sampai ikutan, pasti bertemu sungkem, pasti bersentuhan. Jadi kita harus mampu melakukan silaturahmi bentuk lain, untuk menyelamatkan keluarga yang kita cintai,” kata Wiku. 

Kalau masih ada yang memaksakan mudik, dipastikan akan terjadi penularan. Karena meskipun sudah membawa surat keterangan negatif RT PCR sekalipun, bisa saja tertular di perjalanan. 

“Nggak ada yang bisa menjamin meskipun bawa surat itu pasti tidak ada virusnya. Saya harap tidak sampai ada klaster mudik, karena itu berbahaya sekali, dia membahayakan bukan hanya dirinya, tapi juga orang tuanya di rumah,” ujarnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mudik Lebaran Virus Corona Covid-19
Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top