Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Berang Usai Moeldoko Bicara, Kubu AHY: Ketum KW Laiknya Jam KW

Kubu AHY mempertanyakan pernyataan Moeldoko yang beralasan menerima pinangan menjadi ketum dalam rangka menyelamatkan bangsa dan negara.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 28 Maret 2021  |  21:45 WIB
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berjalan saat akan memberikan keterangan pers di kantor DPP Partai Demokrat , Jakarta, Senin (1/2/2021). AHY menyampaikan adanya upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, di mana gerakan itu melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkaran kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja
Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) berjalan saat akan memberikan keterangan pers di kantor DPP Partai Demokrat , Jakarta, Senin (1/2/2021). AHY menyampaikan adanya upaya pengambilalihan kepemimpinan Partai Demokrat secara paksa, di mana gerakan itu melibatkan pejabat penting pemerintahan, yang secara fungsional berada di dalam lingkaran kekuasaan terdekat dengan Presiden Joko Widodo. ANTARA FOTO - Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA -- Partai Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono akhirnya angkat bicara usai Ketua Umum Demorat hasil KLB Deli Serdang Moeldoko menyampaikan alasannya ikut 'mengambil alih' partai tersebut.

Kepala Badan Hukum dan Pengamanan Partai DPP Partai Demokrat, Ardy Mbalembout, menyesalkan omongan Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) Deli Serdang, Moeldoko.

"Kami sangat nyaman bersama Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Ketua Umum Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Bhinneka tunggal ika, nilai-nilai Pancasila, sangat dipegang teguh di sini. Tidak ada ideologi lain yang mendapat tempat di sini," kata Ardy, Minggu (28/3/2021).

Ardy mengatakan semua pemimpin daerah yang berasal dari Demokrat sepakat akan hal tersebut. Mereka berasal dari suku dan agama berbeda. Namun hal itu, kata Ardy, adalah hal yang biasa.

Perbedaan tersebut kata Ardy, merupakan berkah bagi kader Demokrat. Dia menegaskan Demokrat sama-sama mengedepankan nilai-nilai Pancasila sebagai panduan kami dalam berorganisasi, berbangsa, dan bernegara.

"Itulah akibat Moeldoko bukan orang Demokrat dan tidak mengenal Partai Demokrat, tapi sok tahu bilang ada pertarungan ideologis di Demokrat," kata Ardy.

Selain itu, ia juga mempertanyakan pernyataan Moeldoko yang beralasan menerima pinangan menjadi ketum dalam rangka menyelamatkan bangsa dan negara. Pasalnya, ia menilai Moeldoko menjadi bagian dari begal politik yang merebut paksa Partai Demokrat secara ilegal.

"Lakukan saja tugasnya selaku Kepala Staf Presiden dengan sungguh-sungguh. Presiden saja tidak punya waktu luang memikirkan hal lain selain mengurusi negara. Ini Kepala Staf Presiden malah sibuk bersiasat merebut kepemimpinan partai politik secara kasar dan ilegal," kata Ardy.

Ardy juga meminta Moeldoko tak perlu mengajari Demokrat tentang demokrasi. Ia menegaskan kongres Demokrat tahun 2020 sah sesuai dengan hukum, dan berjalan dengan demokratis.

"Anda itu dipilih jadi Ketum KW di KLB ilegal, melanggar UU Parpol dan AD/ART Partai Demokrat. Lalu dipilih bukan oleh pemilik suara, pakai mekanisme voting gaya anak SD, malah mau bahas-bahas demokrasi?" kata Ardy.

Atas dasar itu, Ardy mempertanyakan seluruh ucapan Moeldoko yang diunggah di Instagram pribadinya,

"Habis tertipu menjadi ketua umum melalui KLB ilegal, sehingga didaulat menjadi Ketum KW laiknya jam KW, sekarang Moeldoko malah omongannya melantur kemana-mana," kata Ardy


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

partai demokrat moeldoko

Sumber : Tempo

Editor : Edi Suwiknyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top