Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gerilyawan Houthi Kembali Serang Fasilitas Minyak Aramco

Serangan dilakukan menggunakan drone yang membawa bom.
Annisa Margrit
Annisa Margrit - Bisnis.com 20 Maret 2021  |  02:30 WIB
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018). - Reuters
Tangki minyak Aramco terlihat di fasilitas produksi di ladang minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi, Selasa (22/5/2018). - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA — Kelompok gerilyawan Houthi menyerang fasilitas pengolahan minyak milik Aramco di Jeddah, Arab Saudi, Jumat (19/3/2021).

Bloomberg melansir, Jumat (19/3), penyerangan tersebut menggunakan enam drone yang membawa bom dan terjadi pada pukul 06.05 pagi waktu setempat. Serangan itu memicu kebakaran, tetapi Pemerintah Arab Saudi mengklaim tidak berdampak terhadap pasokan minyak maupun produk turunannya yang diproduksi di sana.

Kementerian Energi Arab Saudi juga menyatakan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Selain menyerang fasilitas Aramco, serangan drone juga terjadi di pangkalan udara Raja Khalid di Khamis Mushait.

Meski serangan dari kelompok Houthi jarang sekali menimbulkan kerusakan berarti, tetapi intensitasnya makin tinggi dalam beberapa bulan terakhir.

Juru bicara sayap militer gerilyawan Houthi Yahya Saree mengatakan pihaknya bakal terus melakukan serangan selama agresi dan pemblokiran terhadap mereka terus terjadi. Dia meminta warga sipil untuk menjauhi pangkalan militer dan target potensial lainnya.

Kelompok gerilyawan Houthi dari Yaman mendapat dukungan dari Iran. Saat ini, tensi antara Iran dengan Pemerintah AS di bawah Joe Biden memanas terkait perbedaan pendapat mengenai bagaimana menghidupkan kembali persetujuan nuklir damai Iran yang runtuh pada 2015, ketika AS dipimpin Donald Trump.

Trump memasukkan Houthi ke dalam daftar organisasi teroris setelah mereka melakukan sejumlah serangan terhadap kapal tanker minyak di Laut Merah. Namun, keputusan itu dicabut oleh Biden, yang menyatakan bahwa langkah tersebut justru menyulitkan pengiriman bantuan makanan dan penyediaan penampungan bagi warga Yaman yang tengah dilanda perang saudara.

Kelompok Houthi telah melawan Pemerintah Yaman, yang didukung PBB, sejak 2014. Saat ini, ibu kota Sanaa dan berbagai wilayah lainnya berada di bawah kekuasaan kelompok gerilyawan itu.

Yaman berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Pada 2015, koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan yang resmi.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

minyak saudi aramco Perang Yaman

Sumber : Bloomberg

Editor : Annisa Margrit

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top