Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Lolos dari Black Death, Bahaya Besar Belum Sirna

Jauh sebelum Covid-19 melanda, dunia pun pernah luluh lantak akibat diterjang wabah mematikan dengan akibat yang bisa jadi sepahit yang dialami masyarakat global saat ini.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 28 Februari 2021  |  12:01 WIB
Para pengunjung museum Anti-Covid di Wuhan, Provinsi Hubei, Sabtu (21/11/2020), mengamati kandidat vaksin buatan China yang siap memasuki pasaran. - Antara
Para pengunjung museum Anti-Covid di Wuhan, Provinsi Hubei, Sabtu (21/11/2020), mengamati kandidat vaksin buatan China yang siap memasuki pasaran. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Ketika wabah itu datang dengan cepatnya, segala akal budi dan kepandaian manusia seolah tak ada artinya. Wabah itu merebak dengan kecepatan luar biasa dan teramat mengerikan. Akibat yang ditinggalkan sungguh tidak terkira.

Gejala penyakit itu berbeda dengan yang dialami orang-orang Asia. Di sana, darah yang menetes dari hidung merupakan pertanda si penderita sudah dekat ajalnya. Gejala awal yang terlihat di sini adalah munculnya berjolan di sela paha atau ketiak.

Ada yang sebesar telur dan juga yang mirip apel. Belakangan ciri gejala penyakit itu berubah lagi. Banyak penderita menemukan bercak hitam dan memar-memar di lengan, paha dan bagian tubuh lainnya.

Resep dan obat-obatan yang diberikan para tabib untuk menangkal penyakit itu terbukti percuma dan sia-sia. Pada umumnya maut akan datang dalam tempo tiga hari sejak munculnya gejala dini seperti yang digambarkan tadi.

Apakah ini kisah awal Covid-19 di Wuhan, China? Nyaris serupa.

Gambaran di empat alinea pembuka di atas memang sebuah bencana global. Hampir tujuh abad silam meledak. Sebuah petaka yang mengubah dunia. Demikian menurut Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam buku mereka berjudul Why Nations Fail. The Origin of Powers, Prosperity, and Poverty rilisan 2012. 

Kedua pakar tersebut mengutip Giovanni Boccaccio, penulis Italia, yang menyaksikan langsung keganasan wabah The Black Death (Kematian Hitam) di kota Florence pada sekitar tahun 1346—1348.

Pandemi yang disebabkan oleh kutu yang hidup di tubuh tikus itu berasal dari China dan ditularkan oleh para saudagar yang menyusuri Jalur Sutra, urat nadi perdagangan terpenting di kawasan Trans-Asia.

Dan pada 1346 gelombang serangan Black Death sudah mencapai pelabuhan kota Tana, yang terletak di hulu Sungai Don di tepi Laut Hitam

Rombongan pedagang yang berasal dari Geno nampaknya ditumpangi oleh tikus-tikus yang dalam sekejap menyebarkan kutu-kutu pembawa wabah mematikan ke seluruh penjuru kota Tana. Akhirnya semua kawasan Mediterania tak luput dari serangannya.

Memasuki 1347 gelombang wabah tersebut sudah menerjang Konstantinopel di Turki. Pada musim semi 1348, Black Death meneror Prancis dan Afrika Utara hingga mencapai Italia.

Sungguh mematikan. Wabah itu telah memakan separuh populasi di daerah yang diserangnya. Boccaccio pun sukses menggambarkan kisah pilu tersebut di Florence. 

Kepanikan merebak sampai ke Inggris. Tak mau dianggap telat bertindak, Raja Edward III pun memerintahkan Uskup Agung Canterbury menggelar doa bersama. Sejumlah uskup juga menulis maklumat yang harus dibacakan para pater di gereja untuk menyiapkan umat menghadapi petaka yang sudah nampak di depan mata.

Namun kondisi di lapangan bertambah parah. Tak terbendung lagi, wabah pes pun menyerang dengan cepat dan memakan korban separuh dari total populasi bangsa Inggris.

Menghadapi petaka yang demikian keji, sebagian orang lari dari kenyataan dengan mengkonsumsi minuman keras dan mereguk sisa-sisa kenikmatan hidup sepuas hati. Pendeknya, memuaskan hasrat duniawi habis-habisan selagi masih bernyawa.

Dan ini, kata Boccaccio, menjelaskan mengapa kaum perempuan yang berhasil sembuh dari pandemi Black Death akhirnya tidak sealim sebelumnya.

Tak ayal, ekonomi dan bisnis pun mati suri. Bahkah di Inggris meletus revolusi petani pada 1381 meski akhirnya berhasil ditumpas aparat kerajaan. Namun secara luas terjadi perlawanan keras dari mereka yang lolos dari maut untuk menuntut kebebasan.

Bagaimana ekonomi bisa berjalan bila tenaga kerja langka? Setelah wabah berlalu, para tuan tanah di sana justru semakin memperluas lahan pertaniannya. Kota-kota menjadi sepi karena ditinggal mati penduduknya.

“Para petani dan pekerja di sana bukannya merdeka tapi semakin ditindas oleh para tuan tanah yang kian merajalela,” kata Acemoglu dan Robinson.

Dalam pandangan kedua pakar tersebut, wabah Black Death merupakan contoh nyata dari sebuah episode sejarah yang menentukan, yang diwarnai oleh berbagai peristiwa atau komobinasi dari sejumlah faktor yang merontokkan ekuilibrium politik-ekonomi suatu bangsa.

Hari ini pandemi Covid-19 pun masih merajalela. Menerkam mereka yang lengah dan lemah secara medis. Ekonomi dunia dibuat lumpuh berbulan-bulan dengan segala akibatnya yang masih terasa hingga saat ini.

Krisis meluas. Setiap negara sibuk menggelontorkan stimulus untuk menyelamatkan hajat hidup anak bangsa. Namun korban tetap tak terhindarkan, baik dari sisi kesehatan, ekonomi-bisnis dan sosial kemasyarakatan.  

Tak beda dengan petaka dunia ketika diserang Black Death, hantaman Covid-19 kali juga merupakan, meminjam istilah Acemoglu dan Robinson, contoh nyata dari sebuah episode sejarah yang menentukan.

Belum ada satu negara pun yang bisa dikatakan ‘sembuh total’ dari pandemi ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pandemi corona
Editor : Inria Zulfikar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top