Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menlu AS Tuding China Lakukan Kejahatan Genosida ke Etnis Uighur

Menjelang lengsernya Presiden Donald Trump, AS menyerukan perbuatan pemerintah China terhadap rakyat muslim etnis Uighur adalah sebuah kejahatan genosida.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 20 Januari 2021  |  11:02 WIB
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer
Menlu AS Mike Pompeo - Bloomberg/Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo secara resmi menyerukan perbuatan pemerintah China terhadap rakyat muslim etnis Uighur adalah sebuah kejahatan genosida. Dia menegaskan bahwa AS tidak akan tinggal diam.

Hal ini diungkapkan dalam pernyataan resmi pada masa terakhir kepemimpinan Donald Trump pada Selasa (19/1/2021).

“[China] telah melakukan genosida kepada sebagian besar muslim Uighur dan kelompok etnis dan agama minoritas lainnya di Xinjiang. Kami menyaksikan upaya sistematis untuk menghancurkan Uighur oleh partai negara China,” kata Pompeo.

Sebagai negara dengan kekuatan besar baik dari sisi ekonomi, militer, dan politik yang menjadikannya pemimpin global, China telah terlibat dalam pemusnahan etnis lemah dan kelompok agama minoritas. Pompeo menyinggung Presiden Xi Jinping berupaya menutup-nutupi hal ini dengan propaganda.

“Kami tidak akan tinggal diam. Jika Partai Komunis China dibiarkan melakukan genosida dan kejahatan kemanusiaan kepada rakyatnya sendiri, bayangkan apa yang akan berani dilakukan untuk dunia dalam waktu yang tidak terlalu lama,” ujarnya.

Dia meminta China segera membebaskan semua orang yang ditahan secara sewenang-wenang dan menghapus sistem pengasingan, kamp penahanan, tahanan rumah dan kerja paksa.

Menlu AS Pompeo juga menyerukan kepada China agar tidak lagi melakukan pengontrolan populasi, termasuk sterilisasi, aborsi paksa, pengendalian kelahiran paksa, dan memisahkan anak-anak dari keluarganya.

“Akhiri semua penindasan dan kekerasan di [kamp] penahanan, akhiri persekusi Uighur dan kelompok minoritas lainnya di Xinjiang dan di manapun di China, dan [meminta] agar memfasilitasi kelompok minoritas yang teraniaya untuk melakukan perjalanan dan emigrasi,” lanjutnya.

Perilaku penindasan kepada warga etnis Uighur, termasuk etnis Kazakh dan Kirgiz terus terjadi sejak Maret 2017. Dia meyakini kejahatan rasial ini masih berlangsung sekarang kepada lebih dari 1 juta warga sipil.

Dikutip dari Time, AS terus menekan Beijing seiring tudingan Donald Trump dan Pompeo yang mengatakan China sengaja menutup-nutupi kemunculan virus Corona pada awal tahun lalu.

Lima hari lalu, pemerintah AS mengumumkan akan menghentikan impor kapas dan tomat dari Xinjiang karena diduga merupakan produk dari perburuhan paksa.

Xinjiang merupakan pemasok kapas terbesar bagi dunia sehingga kemungkinan akan berpengaruh terhadap perdagangan dunia.

Pemerintahan Trump telah memblokir impor dari perusahaan yang terkait dengan kerja paksa di wilayah tersebut, dan AS telah menjatuhkan sanksi kepada pejabat Partai Komunis yang berhubungan dalam kampanye tersebut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat menlu as suku minoritas uighur Donald Trump
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top