Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kisah dari Negara Jiran : Pandemi Bisa Bikin Orang Melakukan Apa Saja!

Sekitar tengah malam, Arman membawa dua pria ke perairan selatan Pulau Kusu. Di sana sudah ada perahu yang menunggu. Perahu kemudian melaju menuju Batam.
Zufrizal
Zufrizal - Bisnis.com 09 Januari 2021  |  08:26 WIB
Ilustrasi: Kapal petugas melakukan pemanduan dan penundaan kapal di perairan pandu luar biasa Selat Malaka dan Selat Singapura di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/4). - JIBI/Dwi Prasetya
Ilustrasi: Kapal petugas melakukan pemanduan dan penundaan kapal di perairan pandu luar biasa Selat Malaka dan Selat Singapura di Batam, Kepulauan Riau, Senin (10/4). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, SINGAPURA — Merasa simpatik terhadap saudara laki-lakinya dan seorang kenalan yang tidak dapat melihat keluarga mereka di luar negeri selama pandemi Covid-19, seorang tukang perahu setuju untuk membantu mereka meninggalkan Singapura secara ilegal.

Sekitar tengah malam, Arman Mahmood dari Singapura membawa kedua pria itu ke perairan selatan Pulau Kusu. Di sana sudah ada perahu yang menunggu. Perahun kemudian melaju menuju Batam.

Arman (36), seperti dikutip dari www.malaymail.com, Sabtu (9/1/20201), pada Jumat (8/1/2020) dihukum penjara 7 bulan dan didenda S$6.000 oleh pengadilan di Singapura setelah dia mengaku meninggalkan negara itu secara ilegal dan dengan sengaja mematikan transponder kapal untuk menghindari deteksi.

Arman akan menjalani dua minggu lagi di penjara karena dia tidak mampu membayar denda.

Pengadilan mendengar bahwa Arman bekerja sebagai nakhoda kapal yang mengangkut penumpang dari Marina South Pier ke kapal, atau dari satu kapal ke kapal lain.

Saat bertugas sekitar pukul 23.35 pada 29 Oktober tahun lalu, saudaranya Muhammad Aqib Mahmood (29), meminta bantuan Arman untuk mengantarkannya dan kenalannya, Mohamad Sodikin Ritban (43), ke Batam untuk menemui keluarga mereka.

Arman tahu bahwa adiknya sering bepergian ke Batam sebelum pembatasan perjalanan diberlakukan karena pandemi. Aqib memiliki keluarga yang tinggal di Batam meskipun dia tidak menikah secara resmi di sana.

Arman setuju untuk membantu kedua pria itu karena dia bersimpati pada penderitaan mereka.

Saat mendekati perbatasan antara Indonesia dan Singapura, Arman mematikan aliran listrik ke transponder agar tidak terdeteksi oleh Polisi Penjaga Pantai Singapura.

Transponder adalah alat pelacak wajib yang memungkinkan pihak berwenang melacak lokasi kapal dan agar kapal dapat mengidentifikasi kapal lain di dekatnya.

Satu jam kemudian, perahu bermotor sepanjang 15 meter tiba untuk menjemput kedua pria itu. Lalu, Arman mengarahkan kembali kapalnya ke Singapura dan menyalakan transponder.

Sial bagi Arman, seorang petugas penjaga pantai ternyata telah mengawasi mereka dan langsung menangkapnya.

Catatan pengadilan menunjukkan bahwa kedua pria tersebut, keduanya warga negara Singapura, ditangkap setelah mereka kembali ke Singapura.

Aqib telah kembali ke Singapura melalui Pulau Kusu pada akhir November tahun lalu dan dipenjara 2 bulan pada Desember. Sodikin sekarang ditahan, menunggu kasus pengadilannya.

Arman mengatakan kepada persidangan bahwa dia telah belajar dari kesalahannya dan meminta keringanan hukuman karena dia memiliki seorang istri di Johor, Malaysia, yang sedang sakit.

“Saya tahu saya salah,” katanya melalui seorang penerjemah Melayu. "Saya tidak melakukan ini demi uang, saya hanya ingin membantu."

Hukuman maksimum untuk mendorong seseorang meninggalkan negara secara ilegal adalah penjara dua tahun dan denda S$6.000 dan tindakan sengaja mematikan transponder kapalnya, Arman bisa didenda hingga S$20.000.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batam singapura pandemi corona
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top