Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Menanti Detik-Detik Akhir Petualangan Trump Balikkan Kekalahan

Trump dan para senator pendukungnya masih tetap dengan rencana menolak hasil elektoral. Namun, suara mayoritas diperkirakan akan mengakhiri petualangan Trump mengulur kekalahan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 04 Januari 2021  |  12:17 WIB
Menanti Detik-Detik Akhir Petualangan Trump Balikkan Kekalahan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat kampanye. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kurang dari 17 hari menjelang peralihan kekuasaan di Gedung Putih, Presiden Donald Trump masih belum menunjukkan tanda-tanda bersahabat untuk sebuah transisi yang baik.

Aliah-alih bersiap menghadiri pelantikan Joe Biden sebagai presiden terpilih, Trump malah masih berupaya mengganggu proses transisi meski sudah kalah dalam pemilihan presiden pada 3 November lalu.

Hal itu ditandai dengan tindakan tidak terpuji ketika Trump menekan Menteri Luar Negeri negara bagian Georgia Brad Raffensperger, sesama politisi Republikan, untuk "mencari 11.780 suara".

Tujuannya jelas, untuk memenangkan suara di negara bagian selatan itu. Hanya saja sang pejabat menolak keinginan presiden.

Trump pun mendapat sorotan. Ulahnya melakukan percakapan lewat telepon pada akhir pekan lalu selama satu jam bocor ke ruang publik. Harian The Washington Post mengungkapnya dalam pemberitaan.

Hubungan telepon itu adalah langkah terbaru yang gagal dalam upaya Trump mengklaim bahwa kekalahannya dari Biden adalah hasil kecurangan pemilih yang meluas.

Pada kenyataannya, Biden yang merupakan mantan wakil presiden dua periode, memenangkan pemilu dengan selisih suara elektoral 306-232 dan memenangkan lebih dari tujuh juta selisih suara populer dari Trump.

Tidak sampai situ, Trump juga menyiapkan langkah lainnya. Sekelompok senator pendukung Trump mengatakan akan menolak meresmikan kemenangan Joe Biden kecuali dibentuk sebuah komisi untuk menyelidiki dugaan kecurangan pemilu.

Kesebelas senator dan senator-terpilih, dipimpin oleh Ted Cruz, menginginkan penundaan selama 10 hari untuk mengaudit tuduhan tak berdasar itu.

Aka tetapi, manuver ini diperkirakan tidak akan sukses. Sebagian besar senator hampir dipastikan mendukung Biden pada pemungutan suara 6 Januari sebagai bentuk pengukuhan terakhir dari Kongres menjelang pelantikan presiden baru pada 20 Januari.

Apa yang diinginkan para pendukung Trump?

Dalam sebuah pernyataan, 11 senator yang dipimpin senator Texas Ted Cruz menyebutkan bahwa dalam pemilihan presiden pada November terdapat banyak kecurangan pemilu dan penegakan hukum selain berbagai masalah lainnya.

Mengutip preseden pada 1877, ketika komite bipartisan dibentuk untuk melakukan penyelidikan setelah kedua partai mengklaim kemenangan di tiga negara bagian, mereka mendesak Kongres supaya membentuk komisi untuk melakukan "audit darurat selama 10 hari terhadap hasil pemilu di negara-negara bagian yang diperselisihkan.

"Setelah selesai, tiap-tiap negara bagian mengevaluasi temuan komisi dan dapat mengadakan sesi legislatif istimewa untuk meresmikan perubahan dalam suara mereka, jika diperlukan," kata para senator seperti dikutip BBC.com, Senin (4/1/2021).

Hanya saja mereka mengatakan upaya tersebut kemungkinan besar tidak akan sukses.

"Kami tidak naif. Kami sepenuhnya memperkirakan sebagian besar atau semua Demokrat, dan barangkali lebih dari segelintir Republik, akan menolak," ungkap mereka.

Ikhtiar ini terpisah dari yang dilakukan Senator Missouri Josh Hawley, yang juga mengaku akan menolak hasil Electoral College atas dasar keraguan akan integritas pemilu.

Sedangkan sekelompok politikus Republik di majelis rendah Kongres, Dewan Perwakilan Rakyat, juga berencana menentang hasil pemilu.

Dengan hampir selusin senator Republik menantang hasil pemilu di Kongres, kini jelas sudah bahwa anggota inti partai terus mendukung ikhtiar Donald Trump untuk membatalkan kekalahannya di Pilpres 2020.

Tapi, sekali lagi, manuver ini akan sia-sia mengingat mayoritas Demokrat di DPR. Namun, tujuan para politisi ini bukanlah secara ajaib memutar balik takdir sang presiden.

Sepertinya mereka akan berupaya menarik simpati dari basis pendukung loyal Trump.
Mereka bertaruh bahwa jalan menuju sukses di Partai Republik akan terus melalui Trump serta para pendukung setianya.

Dukungan mereka sangatlah berharga bagi senator-senator dengan ambisi menjadi presiden, seperti Ted Cruz dari Texas atau Josh Hawley dari Missouri.

Ini bukanlah yang pertama kali anggota Kongres yang kecewa dengan hasil pemilihan presiden menyatakan keberatan saat penghitungan suara dari Electoral College, tahapan yang lebih bersifat seremonial saja. Namun, hal itu akan menjadi aksi protes terbesar dalam hampir satu setengah abad.

Ini pertanda bahwa dendam partisan di AS, yang diperburuk oleh perjuangan Trump untuk mempertahankan kursi kepresidenan, belum akan pudar dalam waktu dekat.

Apa yang akan terjadi pada 6 Januari?

Keberatan terhadap penghitungan suara Electoral College yang didukung para anggota DPR dan seorang anggota Senat perlu dipertimbangkan oleh para anggota parlemen dalam debat selama dua jam, yang diikuti pemungutan suara.

Namun, supaya hasil penghitungan suara elektoral bisa ditolak, mayoritas di kedua majelis perlu mendukung keberatan tersebut.

Skenario ini dipandang hampir mustahil karena partai Demokrat menguasai mayoritas kursi di DPR dan beberapa anggota Republik di Senat telah mengatakan mereka tidak akan menentang hasil tersebut.

Beberapa politisi top partai Republik telah mengatakan bahwa peran Senat dalam meresmikan hasil pemilihan lebih bersifat seremonial dan seharusnya tidak menjadi kesempatan untuk memperpanjang perdebatan mengenai hasilnya.

Ketua Senat Mitch McConnell telah mengakui kemenangan Biden dan meminta anggota partai Republik lainnya agar tidak menyatakan keberatan.

Keputusan sejumlah politikus Republik untuk melawan pimpinan mereka mengindikasikan perpecahan yang semakin besar dalam partai itu, kata koresponden BBC, Lebo Diseko.

Lalu, bagaimana tanggapan dari kubu Biden yang tengah bersiap menghadiri pelantikan presiden baru?

Mereka tidak tertarik menanggapi lebih jauh manuver terbaru untuk menentang hasil pemilu tersebut.

Juru bicara Biden, Jen Psaki, menyebut upaya Senator Hawley "hanya main-main".

Dia menegaskan bahwa rakyat Amerika Serikat telah bersuara keras dalam pemilu dan 81 juta orang telah memilih Joe Biden sebagai presiden dan Kamala Harris sebagai wakil presiden.

Psaki memastikan Kongres akan meresmikan hasil pemilu seperti yang biasa mereka lakukan setiap empat tahun.

Dengan demikian, berakhirlah “petualangan” Trump sang presiden petahana untuk membalikkan kekalahannya menjadi sebuah kemenangan dengan berbagai cara.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Donald Trump Joe Biden
Editor : Saeno

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top