Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China: Amerika Serikat Biang Kerok Kekacauan di Asia Pasifik

Tudingan China itu dialamatkan kepada Amerika Serikat sehari setelah Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O'Brien berkunjung ke Filipina.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 24 November 2020  |  18:29 WIB
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\n
Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping bersalaman dalam konferensi pers di Great Hall of the People di Beijing, China, Kamis (9/11/2017). - Bloomberg/Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - China menuduh Amerika Serikat berusaha 'menciptakan kekacauan' di Asia Pasifik sehari setelah Penasihat Keamanan Nasional AS, Robert O'Brien berkunjung ke Filipina.

Di Filipina O’Brien mendukung sejumlah negara yang terlibat sengketa maritim dengan China seperti Vietnam dan Filipina. Dia menuduh Beijing menggunakan tekanan militer untuk memajukan kepentingannya sendiri.

Selama perjalanannya ke Manila, O'Brien mengatakan kepada Filipina dan Vietnam bahwa China telah menguasai Laut China Selatan. Oleh karena itu, AS menyatakan mendukung kedua negara itu.

Dia juga menegaskan kembali komitmen AS untuk Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri.

Persaingan AS-China tampaknya akan berlanjut siapa pun yang jadi presien AS. China mengatakan pernyataan pejabat AS itu 'tidak masuk akal' dan membesar-besarkan ketegangan regional.

"Kami dengan tegas menentang pernyataan yang penuh dengan mentalitas Perang Dingin dan secara sembarangan menghasut konfrontasi," menurut Kedutaan Besar China di Manila dalam pernyataan yang diposting di situsnya.

“Ini menunjukkan bahwa kunjungannya ke kawasan ini bukan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan, tetapi untuk menciptakan kekacauan di kawasan dalam rangka mementingkan egois AS,” menurut dokumen itu seperti dikutip Aljazeera.com, Selasa (24/11/2020).

Filipina membawa kasusnya ke Den Haag setelah perselisihan selama dua bulan dengan kapal penangkap ikan China Scarborough Shoal pada tahun 2014.

Pengadilan memutuskan dua tahun kemudian bahwa, di bawah Konvensi PBB tentang Hukum Laut, Filipina memiliki hak eksklusif atas sumber daya dalam jarak 370,4km (200mil laut) dari pantainya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asia pasifik china amerika serikat filipina
Editor : Oktaviano DB Hana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top